Mempreteli akal-akalan Fredrich, Bimanesh dan Setnov di RS Medika
Merdeka.com - Jaksa Penuntut Umum KPK menghadirkan sejumlah saksi dalam persidangan perintangan penyidikan korupsi e-KTP atas terdakwa Fredrich Yunadi. Dalam persidangan terkuat sejumlah kebohongan saat Setya Novanto dirawat di Rumah Sakit Medika Permata Hijau.
Pelaksana Tugas Manajer Pelayanan Medik Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Alia mengaku pihak rumah sakit sempat khawatir rencana rawat inap Setya Novanto. Alasannya, mantan Ketua DPR itu tengah tersangkut permasalahan hukum dengan status tersangka korupsi proyek e-KTP.
Alia menjelaskan, rencana rawat inap Novanto diperoleh dari Dokter Bimanesh Sutarjo. Permintaan tersebut dia teruskan ke sejumlah petinggi rumah sakit di antaranya manajer umum. Setnov dilarikan ke sana karena mengalami kecelakaan saat menumpangi mobil Fortuner.
Saat itu, ujar Alia, Manajer Umum Rusmawati menyilakan rawat inap Setya Novanto dengan syarat sesuai prosedur dan tidak ada masalah. Rusmawati juga meminta agar Alia melapor hal ini ke Direktur rumah sakit, Profesor Hafil.
Seperti diketahui, Fredrich didakwa melakukan upaya merintangi penyidikan korupsi proyek e-KTP dengan mengarahkan Setya Novanto menghindari pemeriksaan oleh penyidik KPK. Dengan alasan, Fredrich akan mengajukan uji materi atas pemanggilan DPR harus mendapat persetujuan dari Presiden.
Sambil uji materi berproses, pria yang akrab disapa Setnov itu diungsikan ke Hotel Sentul. Atas perbuatannya, Fredrich didakwa telah melanggar Pasal 21 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.
Berikut sejumlah akal-akalan Fredrich,Bimanesh dan Setnov:
Fredrich pesan perawat senior buat Setnov
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comAdanya pemesanan kamar oleh mantan kuasa hukum Setya Novanto, Fredrich Yunadi terkuak setelah Jaksa Penuntut Umum pada KPK menghadirkan sejumlah saksi dalam persidangan perintangan penyidikan korupsi e-KTP. Fredrich juga meminta perawat senior untuk merawat mantan Ketua DPR tersebut.
Fakta tersebut terungkap saat Pelaksana tugas Manager Pelayanan Medik, Alia mengaku ditelepon oleh Bimanesh Sutarjo, dokter yang menangani Setya Novanto saat menjalani perawatan medis di rumah sakit tersebut. Saat itu, ujar Alia, dokter spesialis jantung itu menyerahkan ponselnya ke Fredrich yang saat itu sedang bersamanya.
"Setelah jam 2 saya ditelepon lagi, Dokter Alia pasien ini (Setya Novanto) jadi masuk dengan kondisi diagnosa yang disebutkan. Saya sedang bersama pengacara Pak Setya Novanto saya speaker kan ya. Akhirnya diserahkan (ponsel) ke pengacara Pak Setya Novanto," ujar Alia memberi keterangan sebagai saksi di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis (15/3).
"Apa yang dibicarakan? Dalam BAP Anda lawyernya minta disiapin ruangan karena kemungkinan keluarganya banyak kalau bisa ada ruang tambahan dan perawat yang sudah berpengalaman untuk merawat pak Setya Novanto. Keterangan Anda benar?" tanya Ketua Majelis Hakim Saifuddin Zuhri.
"Benar," jawab Alia.
Alia menambahkan, selain memesan beberapa ruang rawat inap dan perawat, Fredrich meminta pihaknya membuat diagnosis kecelakaan. Meski saat itu dia mengaku heran atas permintaan Fredrich saat itu.
Sebelum Setnov dirawat, Fredrich pantau kamar VIP
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comDalam keterangan saksi terkuak sebelum Setya Novanto mengalami kecelakaan, Fredrich terlebih dahulu mengunjungi Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Jakarta, guna memantau kamar rawat inap yang akan ditempati Setya Novanto.
Hal itu terkuak dari keterangan Pelaksana tugas Manager Pelayanan Medik, Alia. Dia menjelaskan, awal mula mengenal Fredrich saat Dokter Bimanesh Sutarjo menghubunginya dan memberitahukan akan ada pasien bernama Setya Novanto dan diminta siapkan kamar rawat inap VIP. Saat itu, ujar Alia, Bimanesh sedang bersama dengannya dan memperkenalkan diri sebagai kuasa hukum Setya Novanto.
Alia mengonfirmasi ada tidaknya konsekuensi hukum terhadap Setya Novanto. Saat itu Fredrich meyakinkan Alia tidak ada akibat hukum terkait pemesanan kamar inap VIP untuk Setya Novanto.
Lebih lanjut, setelah mendapat informasi kesediaan kamar. Fredrich mengutus asistennya memantau kamar yang akan ditempati mantan Ketua DPR tersebut. Sebelumnya, asisten tersebut menelepon Alia.
"Dia mengatakan, 'dok saya asisten Pak Setya Novanto. Saya mau ketemu dengan dokter lalu saya kembali lagi ke rumah sakit. Katanya, 'dok saya mau lihat ruangan tempat bapak mau dirawat nanti, saya jawab oh iya silakan dari lobi naik lift ke lantai 3'," cerita Alia saat asisten Fredrich meminta izin memantau ruang rawat Setya Novanto, Kamis (15/3).
"Sampai di lantai 3, dia (asisten Fredrich) foto-foto, enggak lama saya dapat telepon dari pengacara Setya Novanto, dia tanya dokter di mana? Saya di atas ruangan VIP akhirnya datanglah pengacara Setya Novanto. Fredrich saya katakan ya ini ada di ruangan Pak Novanto dirawat di kamar 323," imbuhnya.
Lebih lanjut, dia mengatakan setibanya di kamar rawat inap VIP, Fredrich menerima telepon, sementara Alia mengaku tidak mendengar percakapan Fredrich dengan seseorang di telepon tersebut.
Usai berbincang di telepon, Fredrich kemudian mengatakan bahwa Setya Novanto akan masuk ke ruang kamar inap VIP dengan kondisi kecelakaan.
Pernyataan itu diakui Alia aneh. Sebabnya, belum ada pemeriksaan namun sudah ada permintaan alasan rujukan pasien ke rawat inap.
"Beliau menutup telepon dan sampaikan ke saya. Dok ini masuknya dengan kecelakaan yah, yang ngomong Pak Fredrich," ceritanya.
"Saya bingung belum tahu kondisi pasien pemeriksaan. Karena kalau dokter harus tahu kondisi pasien dulu. Kan informasi awal Bapak sakitnya hipertensi gangguan jantung makanya saya bingung tapi saya cuma ngomong ini di dalam hati saya saja," tukasnya.
Sebelum Setnov kecelakaan, Fredrich minta dokter IGD buat surat diagnosa
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSidang lanjutan perintangan penyidikan korupsi e-KTP dengan terdakwa Fredrich Yunadi kembali digelar di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat. Pelaksana tugas Manager Pelayanan Medik Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Alia mengaku dokter jaga IGD didatangi Fredrich untuk membuat surat diagnosa kecelakaan bagi Setya Novanto.
"Saya menghubungi Dokter Bimanesh, 'dok, tadi Dokter Michael nelepon saya dengan nada marah katanya didatangi pengacara Pak Setya Novanto suruh buat diagnosa kecelakaan. Dokter Michael mau meninggalkan IGD kalau diminta begitu'," ujar Alia memberi kesaksian di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis (15/3).
Sebelum menghubungi Bimanesh, Alia mengaku meminta Michael tetap menjalani prosedur untuk melakukan pemeriksaan awal bagi setiap pasien yang akan menjalani rawat inap. Dia juga meminta agar Michael selaku dokter jaga IGD tidak terpengaruh dengan permintaan Fredrich.
"Siapapun yang tidak ada indikasi rawat inap ya dipulangkan jangan mau ada intervensi," ujarnya.
Setelah salat Magrib, imbuh Alia, keluhan Michael diteruskan ke Bimanesh Sutarjo, namun tidak direspons. Bimanesh akan urus sendiri soal permintaan tersebut.
Alia kemudian mengaku tidak mengetahui lebih lanjut proses administrasi masuknya Setya Novanto ke ruang rawat inap kelas VIP. Hanya saja, dia baru mengetahui mantan Ketua DPR itu telah masuk ruang rawat inap melalui grup pesan singkat karyawan Rumah Sakit Medika Permata Hijau.
Dirawatnya Setya Novanto kemudian menimbulkan kegaduhan dengan banyaknya pemberitaan yang menyebut Setya Novanto mengalami kecelakaan tunggal dan dilarikan ke Rumah Sakit Medika Permata Hijau.
Saat itu, Alia mengaku menghubungi Bimanesh perihal proses administrasi masuknya Sety Novanto. Dikatakan Bimanesh semua aman dan sesuai prosedur.
Dokter Bimanesh yakinkan proses administrasi beres
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comJaksa Penuntut Umum pada KPK menghadirkan sejumlah saksi pada sidang perintangan korupsi proyek e-KTP atas terdakwa Fredrich Yunadi. Dalam sidang tersebut, Pelaksana Tugas Manager Pelayanan Medik Rumah Sakit Permata Hijau, Alia mengatakan dirawatnya Setya Novanto membuat pihak rumah sakit sempat ketar ketir.
Di hadapan majelis hakim, Alia mengatakan, Direktur Rumah Sakit Profesor Hafil saat itu sempat meminta konfirmasi kepadanya tentang Setya Novanto. Sebab sebelumnya, Alia mengatakan ada rencana pemesanan kamar untuk Setya Novanto. Menurut Alia, Hafil yang saat itu berada di Melbourne mempersilakan dengan syarat sesuai prosedur.
"Jadi ada grup WhatsApp yang memang khusus membahas Setya Novanto. Di situ ditanya proses administrasinya bagaimana," ujar Alia saat memberi kesaksiannya di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis (15/3).
Dalam grup tersebut, terdapat Dokter Bimanesh Sutarjo selaku dokter yang merekomendasikan Setya Novanto dirawat di rumah sakit tersebut. Alia kemudian, mengontak Bimanesh secara pribadi meminta klarifikasi proses administrasi mantan Ketua DPR tersebut. Dijawab Bimanesh proses administrasi telah sesuai.
"Ramai-ramai waktu itu Pak Setya Novanto dirawat di rumah sakit kami. Saya tahu itu juga di internet," ujar Alia.
Alia pun merespons pertanyaan Hafil bahwa Setya Novanto telah masuk ke ruang rawat inap.
"Saya bilang sudah on position," ujar Alia.
"Apa maksudnya?" tanya Jaksa.
"Sudah masuk (ke ruang inap)," ujarnya.
Bimanesh suruh perawat pasang perban di kepala Setnov
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSetya Novanto meminta kepalanya diperban saat dirawat di Rumah Sakit Medika Permata Hijau, usai kecelakaan tunggal. Hal ini terungkap saat jaksa penuntut umum pada KPK membacakan isi surat dakwaan Bimanesh Sutarjo di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat.
"Terdakwa juga menyampaikan kepada Indri Astuti (perawat) agar luka di kepala Setya Novanto untuk diperban sebagaimana permintaan dari Setya Novanto," ungkap Jaksa Takdir Suhan saat membacakan surat dakwaan Bimanesh, Kamis (8/3).
Selain berpura-pura memasang perban pada kepalanya, Bimanesh memerintahkan seorang perawat bernama Indri menempelkan tanpa menancapkan jarum dan selang infus pada mantan Ketua DPR itu. Namun Indri tetap memasang jarum kecil yang biasa dipakai untuk anak-anak.
"Malam sekitar pukul 19.00 WIB Fredrich Yunadi memberikan keterangan di RS Medika Permata Hijau kepada wartawan seolah-olah tidak mengetahui adanya kecelakaan mobil yang dialami Setya Novanto dan baru mendapat informasi yang bersangkutan dirawat inap di RS Medika Permata Hijau dari Reza Pahlevi (ajudan Setya Novanto)," ujarnya.
Keesokan harinya, Fredrich menemui Bimanesh membahas rencana konferensi pers terkait kondisi mantan ketua umum Partai Golkar itu. Rencana keduanya menggelar konferensi pers sejatinya belum mendapat persetujuan dari pihak manajemen rumah sakit.
Di hari yang sama, KPK bersama rombongan tim dokter KPK dan anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyambangi rumah sakit tempat Novanto dirawat guna melakukan pemeriksaan. Hasilnya, politikus Golkar yang kini menjadi terdakwa korupsi proyek e-KTP, dinyatakan cakap menjalani pemeriksaan.
(mdk/did)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya