Memerangi sampah di Laguna Segara Anakan Cilacap
Merdeka.com - Persoalan sampah di Laguna Segara Anakan Kabupaten Cilacap tak kunjung usai. Letak geografis Laguna Segara Anakan sebagai hilir dari Sungai Citanduy, Sungai Cimeneng dan Sungai Cikonde mengakibatkan kiriman sampah dalam jumlah besar tak terbendung saban hari. Akibatnya sungai menjadi dangkal dan kumuh akibat sampah yang tak mudah diakses dari perairan ke daratan Cilacap.
Memerangi sampah tersebut, Gerakan Citanduy Lestari menginisiasi 50 anak muda membersihkan di daratan kecamatan Kampung Laut. Kampung Laut sendiri merupakan pemukiman yang berada di kawasan Segara Anakan dan terletak di antara daratan Cilacap sebelah barat dan Pulau Nusakambangan. Terdiri dari 4 desa; Klaces, Panikel, Ujung Alang dan Ujung Gagak secara geografis dipisahkan oleh perairan.
Juru bicara Gerakan Citanduy Lestari, Agus Kusmawanto mengatakan dari kegiatan pungut sampah pada Minggu (13/8) terkumpul sebanyak 40 karung sampah dengan berat sampah basah 40 kg dan sampah kering 15 kg. Sampah-sampah tersebut berasal dari 8 titik yakni 5 titik di kawasan Pulau Nusakambangan dan 3 titik di pulau-pulau endapan lumpur. Sampah terbanyak berada di desa Klaces dan perairan Pelawangan Barat yang merupakan muara sungai Citanduy.
"Mayoritas sampah plastik," kata Agus pada Merdeka.com di Kecamatan Kampung Laut, Minggu (13/8).
Dipilihnya Laguna Segara Anakan, kata Agus, karena lokasi tersebut menjadi hilir yang membawa kiriman sampah plastik dan lumpur. Gelontoran sampah telah mengakibatkan Segara Anakan menjadi dangkal, kumuh, merusak ekosistem. Dampak susulan, nelayan mengalami kesulitan mencari ikan. Termasuk berkurangnya jumlah populasi burung yang kesulitan mencari ikan sebagai mangsa utama.
"Gerakan ini memang belum optimal. Tapi tujuan utama kami mengedukasi warga Kampung Laut melalui peran para pemudanya," ujar mahasiswa Kehutanan UGM ini.
Camat Kampung Laut, Nurindra Wahyu mengatakan kesadaran lingkungan dari masyarakat Kampung Laut sendiri memang masih tergolong minim. Ketika banjir rob misalnya, warga dengan leluasa membuang sampah sembarangan ke Laguna Segara Anakan.
"Membuang ke perairan, warga beranggapan sampah nanti hilang dengan sendirinya," ungkapnya.
Di wilayah Kampung Laut sendiri, sampai saat ini belum ada tempat pembuangan akhir. Penanganan sampah, kata Nurindra, masih dilakukan secara konvensional yakni penimbunan di bak-bak sampah umum. Bak-bak sampah juga masih terbatas yakni 3 bak untuk satu desa.
"Nantinya sampah lantar dibakar," ujarnya.
Kepala Seksi Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Cilacap, Antini Purwantini menerangkan, persoalan penanganan sampah di Kampung Laut karena belum adanya kendaraan pengangkutan sampah dari perairan ke daratan Cilacap. Pembuatan TPA, dia nilai juga tak mudah, karena mesti menentukan lokasi yang tepat untuk mengurangi konflik dengan warga, mengganggu kenyamanan warga dan membuat potensi kerusakan lingkungan baru.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya