Membongkar hasrat kuasa di atas kanvas
Merdeka.com - Dalam khazanah perkembangan seni rupa di Kabupaten Cilacap, selama masa berkarya 25 tahun lebih sejak tahun 1980-an, lukisan-lukisan Daryono Yunani (Lahir di Cilacap, 13 Maret 1962) telah tumbuh sebagai ekspresi seniman yang menekankan interprestasi atas kenyataan-kenyataan sosial dan politik.
Karya-karyanya kini telah tersebar di mana-mana. Baik koleksi galeri maupun koleksi pribadi. Rupa-rupa wayang dalam banyak lukisannya, adalah elemen-elemen tradisi Jawa yang ditampilkan dengan persepsi baru. Suara untuk mencibir, mengkritik dan mengingatkan perilaku elite politik yang seringkali menyakiti rakyat.
Ditemui di halaman belakang rumahnya di Jalan Damar, Tritih, Daryono nampak asyik mempelototkan tube cat minyak di atas kanvas. Setiap hari, ia berkata, mendisiplinkan diri untuk meluangkan waktu selama 2 sampai 4 jam untuk melukis. Bengkel kerjanya berupa pendopo kayu Sengon semi permanen berukuran 5x5 meter.
Terakhir kali, ia menggelar pameran tunggal di salah satu Hotel di Cilacap setahun lalu. Dari 25 lukisan yang ia pajang, 3 lukisan laku terjual. Masing-masing dibeli antara Rp 15 juta sampai Rp 17 Juta.
"Kekuatan daya beli di Cilacap, memang lebih bagus daripada Banyumas, Kebumen atau Wonosobo. Dulu, tahun 2008, lukisan saya berjudul "Triwikrama" dipamerkan di Gedung Dwiyaloka juga dibeli oleh warga Cilacap seharga Rp 35 juta," katanya.
Daryono bercerita, melukis baginya tak semata menjual dan mendapat penghargaan materi. Tetapi utamanya melahirkan anak-anak rohani. Dalam lukisannya, ia berkeinginan membongkar hasrat-hasrat tersembunyi manusia. Mulai dari hasrat akan kemegahan, hasrat menjilat dan hasrat berkuasa. Ia tak menampik, baginya, seni rupa juga perangkat kritis bagi realitas sosial.
Beberapa lukisannya, 'Pidato dan Bendera Setengah Hati' (Oil on Canvas, 146 x 120 cm, 2013) dan 'Petruk dadi Asu' (Oil on Canvas, 130 x 95 cm, 2013) adalah sepasang cerita tentang Petruk yang sesungguhnya adalah orang kecil, seorang abdi yang mengedepankan kesetiaan dan kejujuran.
Tetapi, ketika petruk berspekulasi untuk mengubah nasibnya dengan memasuki panggung politik maka yang ada ia hanya membual tentang cintanya pada rakyat dan bangsa. Tujuan utama Petruk berada di atas mimbar, katanya, adalah usaha untuk mendapat kekuasaan yang di dalamnya tersembunyi pamrih untuk memperoleh keuntungan dari kedudukan.
"Saya kira, kita tak sulit mendapat contoh perilaku semacam itu di kalangan elite politik kita, baik di tingkat nasional maupun daerah," sindirnya.
Dari sekian banyak lukisan Daryono, ia memang banyak menampilkan elemen tradisi Jawa yakni wayang untuk mengkomunikasikan kenyataan-kenyataan sosial dan politik. Sebuah karyanya, "Bocah Bajang Giring Angin" (Oil on Canvas, 200 x 145 cm) yang lolos dalam kuratorial Galeri Nasional pada tahun 2009, juga bertema sindiran. Tentang hasrat menuju kekuasaan yang ditempuh dengan cara licik.
Hasrat itu, menurutnya adalah hasrat yang digerakkan nafsu. Rohani manusia yang baik pun menjadi tertutup. Lewat media lukisan dan objek wayang, ia berharap, arena kesenian bisa sekaligus menjadi muatan pendidikan.
Selain menampilkan figur wayang dalam lukisannya, Daryono Yunani juga menampilkan sosok potret dirinya semisal pada lukisan 'Aku dan Alam' (Oil on Canvas, 135 x 95 cm, 2005). Dalam lukisan ini sosok diri Daryono berdiri di ujung tebing, rambutnya yang gondrong sebahu dibiarkan tergerai, sepasang tangannya membentang seolah ingin menyatukan diri pada alam dengan cara bersikap diam mengoptimalkan indra yang ada di tubuh.
Menariknya dalam lukisan ini adalah warna sosok diri Daryono dalam rupa siluet berwarna merah seolah manusia telah menjadi benda. Sedang langit berwarna keemasan dan memiliki guratan pori-pori sebagai lanskap kehidupan yang menghampar luas.
"Kalau lukisan ini adalah sikap reflektif saya pribadi. Harapan saya selalu berdekat-dekatan dengan alam. Lukisan ini, kini menjadi koleksi Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta tahun 2013 silam," katanya.
Kesetian Daryono Yunani berkarya menegaskan bahwa proses berkesenian, salah satunya seni rupa, bisa tumbuh di daerah mana saja, juga di Cilacap. Ia tak pernah patah arang dalam berkarya, meski Pemkab Cilacap diakuinya kurang apresiatif pada kesenian. Baginya, yang terpenting seni rupa dan kritisisme sosial adalah wujud konsistensi yang akan terus ia ekspresikan di atas kanvas.
Diumpamakan sebagai bagian pagelaran wayang, lukisan Daryono adalah Blencong. Lampu yang ditujukan untuk memperlihatkan bahwa kelesuan dan kelungkrahan politik negeri ini adalah kelir yang telah membentang begitu luas sebagai kenyataan yang memprihatinkan. Kelir Keprihatinan Daryono, tentu lebih kaya ketimbang kata-kata yang diteriakan lewat megafon di atas mimbar menuju kekuasaan. (mdk/cob)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya