Membandingkan aksi Jokowi & SBY hadapi kisruh polisi vs KPK
Merdeka.com - Masih ingat di benak masyarakat Indonesia, saat ramai kasus cicak melawan buaya pada tahun 2009 lalu. Cicak sebagai representasi dari KPK, sementara buaya dianalogikan dengan kepolisian.
Istilah cicak vs buaya mencuat pertama kali lewat ucapan Kabareskrim saat itu Komjen Pol Susno Duadji yang merasa teleponnya disadap KPK. "Cicak kok mau melawan buaya," kata Susno.
Saat itu, Susno diduga menerima uang Rp 10 M terkait penanganan kasus Bank Century. Namun hal itu sudah dibantah berkali-kali oleh Susno.
Kasus Cicak vs Buaya semakin heboh ketika Polri 'membalas' dengan menetapkan status tersangka kepada dua pimpinan KPK saat itu, Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto. Mereka diduga menerima uang dari Anggoro Widjojo, adik buron kasus Sistem Korupsi Radio Terpadu (SKRT). Namun, dugaan ini tidak pernah dibuktikan, karena kasus ini berujung pada deponering atau penghentian perkara demi kepentingan umum.
Cicak vs buaya semakin ramai lantaran mendapatkan banyak dukungan dari publik. Mulai para aktivis antikorupsi hingga masyarakat umum ramai-ramai mendukung KPK. Bahkan, muncul sejuta dukungan kepada cicak di dunia maya.
Akhirnya, setelah didesak oleh berbagai kalangan pemerintah SBY kala itu mengeluarkan depoonering, alias penghentian perkara demi kepentingan umum. Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah pun bebas dari segala tuntutan.
Kasus cicak dan buaya kembali mencuat saat 2012 lalu, saat KPK gencar mengusut kasus simulator SIM di Mabes Polri yang menjerat Kepala Korps Lalu Lintas Polri Inspektur Jenderal Djoko Susilo. Pada 5 Oktober 2012, KPK digeruduk oleh brikade mobil Polri, hendak menangkap salah satu penyidik KPK, Novel Baswedan. Novel dituduh terlibat kasus penganiayaan berat saat masih bertugas di Riau. Namun atas dukungan dari segenap lapisan masyarakat, 'cicak' kembali menang melawan 'buaya'. (mdk/war)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya