Melihat Cara China dan Amerika Menghadapi Covid-19 Varian Delta
Merdeka.com - Duta Besar Republik Indonesia untuk China, Djauhari Oratmangun mengatakan, varian baru Covid-19 Delta diakui penyebarannya sangat cepat tapi sejauh ini dapat dikendalikan.
Di seluruh China hanya sekitar tiga ribuan kasus aktif saat ini dari jumlah penduduk sebanyak 1,46 miliar. Protokol diperketat di 15 daerah yang masuk dalam kategori high risk dan medium risk.
Djauhari menambahkan, tidak terjadi kepanikan baru di China terkait Covid-19 varian delta ini. Hanya saja pemerintah lebih mendisiplinkan beberapa daerah yang tadinya sudah memiliki kelonggaran dengan menerapkan protokol kesehatan selain mengintensifkan tes PCR dan vaksinasi sebanyak 1,3 miliar dosis yang disuntikkan.
China, lanjut dia, akan segera mencapai 70 hingga 80 persen masyarakat yang sudah divaksinasi dalam waktu dekat. Tidak hanya itu, beberapa daerah yang memiliki tingkat penduduk tinggi pun dilakukan test secara menyeluruh seperti Zhuzhou dan Wuhan.
"Dua minggu lalu saya ada konferensi pers digital di Wuhan, saya hadir sebagai pembicara di sana. Itu konferensi besar saya jalan-jalan ke kita sudah back to normal tapi prokes," ujar Djauhari dalam diskusi Polemik MNC Trijaya, Sabtu (7/8).
Aktivitas masyarakat di China selalu terpantau dengan health kit yang harus ditunjukan kepada petugas kemanapun mereka pergi. Alat pendeteksi tersebut digunakan untuk mendeteksi dan memeriksa status kesehatan individu hingga mempermudah masyarakat dalam melakukan tracing.
"Ini saya punya health kit untuk berbagai kota dan provinsi yang saya datangi, jadi kita di Beijing misalnya kita masuk ke area mal kita scan, kemudian kita ke restoran kita scan, jadikan kemudian kita di tracing," ujarnya.
Tidak hanya China yang mencuri perhatian terhadap penanganan Covid-19, beberapa bagian di Amerika Serikat kini terlihat sudah normal. Walaupun belum semua bagian mencapai target vaksinasi, Amerika tampaknya memberikan kelonggaran terhadap prokes.
"Kalau prokes, seperti di airport memang disarankan menggunakan masker dan lain-lain, kalau ke mall itu pilihan masing-masing. Sekolah rata-rata menyarankan anak dibawah umur yang belum bisa vaksin untuk menggunakan masker," ujar Linda Hamidjaja, chief of acute medicine and specialities, hospital AS, dalam diskusi Polemik MNC Trijaya, Sabtu (7/8).
Beberapa bagian di AS sempat mengalami lonjakan Covid-19 varian Delta sejak pertengahan juli 2021, namun hal itu tidak membuat aktivitas di Amerika Serikat dibatasi. Seperti tiket pesawat yang selalu penuh dan susah mendapatkan bangku kosong, contract tracing yang sudah tidak berjalan sejak lama hingga belum ada otoriter untuk mengecek test PCR maupun karantina.
Terkait individu yang individual, vaksinasi di Amerika Serikat belum tersebar secara merata. "Beberapa negara bagian sudah lima puluh persen mendapatkan vaksin dosis kedua, di beberapa bagian ada yg masih empat puluh persen dosis pertama," ujarnya.
Meski demikian, pemerintah Amerika memberikan cara yang berbeda dari negara lain untuk melancarkan proses vaksinisasi serta menarik minat masyarakat dalam melakukan vaksin seperti memberikan insentif.
"Upaya pemerintah sudah ada yg diberikan insentif dengan adanya lotre, undian, untuk pegawai pemerintah pusat diberikan empat jam libur," jelasnya.
Reporter Magang: Leony Darmawan
(mdk/bal)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya