Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Melihat aksi personel Brimob jinakkan ular berbisa

Melihat aksi personel Brimob jinakkan ular berbisa Brimob jinakan ular berbisa. ©2015 merdeka.com/darmadi sasongko

Merdeka.com - Tidak hanya handal dalam urusan teror bom, pasukan Brigade Mobil (Brimob) Polri juga memiliki kemampuan dalam urusan penanganan ular berbisa. Para personelnya sebagian sejak dini dibekali pemahaman dan penanganan reptil melata berbisa itu selama di lapangan.

"Tim Search and rescue (SAR) diberikan materi penanganan ular, salah satu pembekalan untuk survival," kata Ipda Slamet Subagio di Markas Komando Brimob Apeldento, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Rabu (2/9).

Slamet sendiri adalah salah satu personel yang memiliki kemampuan tersebut. Dia memamerkan kelihaiannya dalam penanganan ular berbisa di Lapangan Tembak Mako Brimob. Kemampuanya sudah tidak diragukan lagi, bahkan sangat fasih dalam urusan penanganan ular berbisa.

Aksinya sangat berani hingga membuat deg-degan yang melihatnya. Betapa seekor ular king kobra dengan mulutnya yang mendesis menjadi mainannya, bahkan dicium di kepalanya. Aksinya tanpa pelindung, kecuali topi dan kain yang digunakan sebagai pembungkus salah satu ular.

"Sebagian jenis ular menjadi konsumsi teman-teman saat di hutan," katanya.

Kini, Slamet menjadi bagian dalam sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat seputar tentang ular. Materinya diberikan kepada masyarakat umum dan sekolah-sekolah yang ditunjuk.

"Edukasi itu untuk mengenalkan kalau binatang juga punya hak hidup. Karena seperti diketahui, selama ini kalau ketemu ular pasti dibunuh," katanya.

Materi yang diberikan di antaranya upaya keselamatan dan keamanan, serta penyadaran. Saat bertemu dengan ular, baik berbisa maupun tidak harus dilakukan tindakan-tindakan yang tepat.

"Kalau tidak berkenan memelihara bisa diserahkan ke kebun binatang atau para pecinta ular," katanya.

Selama pemeliharaan harus juga diperhatikan perlakuannya, di antaranya harus dipinggirkan dari hewan ternak. Karena saat lapar, apapun yang ada di depan ular akan dimakan. Karena itu harus benar perlakuannya agar tidak membahayakan manusia dan juga ularnya.

"Kalau ular dibunuh secara terus-menerus akan merusak ekosistem. Akhirnya tikus merajalela memakan padi di sawah, karena adanya ketidakseimbangan populasi," tegasnya.

Slamet sudah 2 tahun mendalami seputar tentang ular, diawali ketika bertugas di Kompi Kediri. Saat itu masyarakat risau karena hewan piaraannya kerap hilang, akhirnya ditemukan ular sepanjang 4 meter.

Sejak saat itu, Slamet memiliki keberanian menangkap ular dan membagikan tips saat menjadi korban gigitan atau lilitan ular. Penanganan antara lilitan ular berbisa dan tidak berbisa sangat berbeda.

"Ular punya kemampuan untuk memastikan korbannya mati atau hidup. Sampai detak jantung korbannya tidak berdetak," katanya.

Selain itu seekor ular juga memiliki bentuk gigi menghadap ke dalam. Sehingga saat digigit tidak boleh panik apalagi ditarik, karena justru akan membuat otot atau kulit rusak.

"Ambil dan cari bagian ekor, dan berusaha lepas dari ekornya," tegasnya.

Sementara Febrian, seorang Keeper Venom yang menjadi partner Slamet, meminta masyarakat menghindar jika menemui ular berbisa, terutama jenis king cobra.

"Tidak dianjurkan dibuat permainan. Mencari tongkat kayu untuk mengusirnya atau memanggil orang yang ahli. Kalau sudah tergigit, segera diberikan pertolongan pertama dan dibawa ke dokter," katanya.

(mdk/gil)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP