Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mbah Watem dan kebersahajaan jemaah haji kita

Mbah Watem dan kebersahajaan jemaah haji kita Mbah Watem di Arab Saudi. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Indonesia selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi orang Arab Saudi, khususnya di musim haji. Para pedagang di sekitar hotel-hotel di Madinah tepatnya di Markaziyah (maksimal 650 meter dari Masjid Nabawi) selalu menyapa jemaah haji asal Indonesia dengan bahasa Indonesia. Mereka pun menawarkan dagangannya dengan bahasa Indonesia.

"Murah-murah, sepuluh riyal, bla bla.." demikian para pedagang menawarkan dagangannya pada para jemaah haji asal Indonesia.

Tak cuma para pedagang, penduduk Saudi pun kalau ketemu orang Indonesia sering menyapa, "Indonesia?" dengan senyum. Orang Indonesia di Arab Saudi memang terkenal baik dan ramah.

Saking terkenal baiknya, ada 'modus' orang ngaku-ngaku warga Palestina, kadang India, mengaku mengalami masalah di Arab dan minta sumbangan seikhlasnya. Mereka ini sering menjadikan jemaah haji Indonesia sebagai target. Karena iba, lembaran uang Riyal dengan ikhlas disumbangkan.

Tak cuma terkenal baik dan ramah, jemaah haji Indonesia terkenal keluguannya. Maklum sebagian besar jemaah haji Indonesia berasal dari kampung dan tingkat pendidikannya rendah.

Selain itu, sebagian besar jemaah haji Indonesia sudah berusia lanjut usia, di atas 60 tahun. Tak sedikit dari mereka yang menderita lupa ingatan alias pikun.

perawatan jemaah haji di madinah

Perawatan jemaah haji di Madinah ©2016 Merdeka.com/ Anwar

Saat merdeka.com dan tim MCH berkunjung ke Kantor Kesehatan Haji Indonesia di hari keenam di Tanah Suci, seorang nenek tua tampak santai ngobrol dengan dokter dan perawat. Kalau dilihat sekilas, nenek bernama Watem tersebut tidak sakit.

Meski sudah tua, dia tampak cepat menjawab pertanyaan dokter. Sesekali mereka tampak tertawa lepas. Rupanya nenek Watem ini mengalami dimentia akut alias lupa ingatan alias pikun.

Si Nenek merasa masih tinggal di kampung halamannya di Brebes, Jawa Tengah.

"Seminggu lagi saya berangkat ke Mekkah," kata Nenek Watem santai.

Ditanya apa saja si nenek menjawab dengan gembira. Bahkan dia cerita kalau cucunya yang masih muda lagi didekati sama guru di sekolah dekat rumahnya.

"Dibeliin apa saja, baju, dikasih uang," cerita Watem dengan logat ngapak yang kental.

Di tas kecilnya, Watem menyimpan foto dirinya saat berada di asrama haji Solo, sehari sebelum terbang ke Arab Saudi. Tapi si nenek cerita kalau foto tersebut dia beli dari pasar.

"Ini foto saya beli dari pasar," ujarnya seakan tidak bersalah.

Kisah yang dialami Mbah Watem ini ternyata tak sekali dua kali saja. Banyak jemaah haji kita yang mengalami nasib yang sama. Saat berkunjung ke Kantor Kesehatan Haji Indonesia saja, ada tiga jemaah haji yang menderita kepikunan. Namun satu di antaranya sudah diperbolehkan untuk pulang.

Sakit pikun, yang kerap dialami jemaah haji kita diperparah dengan lingkungan yang kadang tidak mendukung. Bertemu dengan orang-orang yang sebelumnya tidak dikenal membuat mereka menjadi stres.

"Kalau ada lingkungan yang baru lagi, mereka bisa kambuh lagi. Pikiran jadi kacau dan akhirnya lupa lagi," ujar salah seorang Petugas Kesehatan Haji Indonesia yang menangani kesehatan jemaah haji, dr Noki Irawan Saputra di Klinik Kesehatan Haji Indonesia.

Para jemaah haji yang mengalami dimensia akut ini, menurut dr Noki, kebanyakan disebabkan kondisi sekitar tidak memedulikan.

"Kita sampaikan kepada teman satu kelompoknya agar saling membantu. Jangan ditinggalkan dan saling mengawasi. Takutnya nanti mereka hilang, muter-muter, panas, dehidrasi, panas, kejang-kejang bisa head stroke dan bisa menyebabkan kematian," imbuh dokter ahli jiwa tersebut.

Lain ceritanya dengan Mbah Watem. Saat melakukan salat jamaah di Masjid Nabawi, beberapa jemaah haji Indonesia mengaku kehilangan sandal. Mereka pun pulang ke hotel masing-masing dengan tanpa alas kaki.

Akibatnya, kaki mereka melempuh lantaran menginjak tanah di tengah cuaca panas Madinah tanpa alas kaki.

"Sebenarnya sandal mereka tidak hilang, cuma mereka keluar salah pintu, terus bilang hilang," kata dokter jaga Kantor Kesehatan Haji Indonesia Madinah, dr Erwinsyah Erick.

Adalagi pengalaman teman saya sesama anggota MCH. Saat bertugas liputan di sekitar Masjid Nabawi, ada kakek-kakek yang menanyakan kepadanya di mana membeli nasi bungkus, dan dimana penjual telur asin. Dengan bersahajanya mereka menganggap bahwa Arab Saudi tidak jauh beda dengan Indonesia, banyak yang jual nasi bungkus, juga telur asin.

Sebagian besar jemaah haji kita adalah jemaah haji dengan risiko tinggi. Kondisi ini diperparah dengan pengalaman ke luar kota, apalagi luar negeri sangat minim. Bahkan ada juga yang sama sekali tidak pernah ke luar daerah tempat mereka tinggal.

Makanya, saat pelatihan sebelum berangkat liputan haji, oleh Kementerian Agama kami diwanti-wanti agar ikut membantu jemaah haji yang mengalami kendala di Tanah Suci, seperti yang telah dilakukan oleh teman-teman MCH Daker Madinah. Ibadah nomor dua, tugas utama adalah menjadi petugas haji yang melayani para jemaah haji. Jadi jangan heran kalau selain liputan, kadang kita ikut membantu nenek-nenek yang tersesat, atau menggendong kakek-kakek yang sudah renta, untuk diantarkan ke hotel/pemondokannya.

(mdk/sho)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP