Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Maraknya pernikahan dini berdampak pada gizi buruk anak di Desa Grugu Cilacap

Maraknya pernikahan dini berdampak pada gizi buruk anak di Desa Grugu Cilacap Aksi cap tangan anak di desa Grugu Cilacap. ©2018 Merdeka.com/Abdullah Sani

Merdeka.com - Maraknya pernikahan dini jadi persoalan berantai di Desa Grugu, Kecamatan Kawunganten, Kabupaten Cilacap. Pernikahan pasangan muda-mudi di bawah usia 20 tahun yang belum siap merawat anak berdampak pola asuh serta kesehatan anak.

Usia yang terlalu belia, belum jelasnya pendapatan ekonomi dan kompleksnya kehidupan rumah tangga jadi muasal terbengkalainya kehidupan anak.

Di desa Grugu, yang berpenduduk 4.000 jiwa serta merupakan daerah-daerah rawa, 6 balita ditengarai mengalami gizi buruk dan sejumlah lainnya gizi kurang. Persoalan ekonomi orangtua dan rendahnya pengetahuan orangtua dalam mengasuh anak ditengarai jadi penyebab.

Kepala Desa Grugu, Nasem bercerita pernikahan dini banyak dilakukan oleh remaja-remaja asal desanya sejak dua tahun terakhir. Sebab tak memiliki pekerjaan, umumnya si ibu lantas menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri dan si bapak merantau ke Jakarta menjadi kuli bangunan. Anak mereka yang baru lahir lantas ditinggalkan tanpa asupan Air Susu Ibu (ASI). Sedang susu formula sebagai pengganti tak mampu terbeli.

"Di sini ada juga yang enam belas tahun sudah menikah. Pasangan ini lalu sama merantau cari pekerjaan di luar negeri atau Jakarta. Anak diasuh kakek-neneknya," ujarnya saat ditemui merdeka.com di kantor desa Grugu, Minggu (21/1).

Diasuh kakek neneknya, para balita tak mendapat pengasuhan secara optimal. Sebabnya pengasuhan terbagi dengan pekerjaan sebagai buruh tani di sawah. Persoalan gizi buruk atau gizi kurang yang dialami balita pun tak terhindarkan.

"Kalau pihak kesehatan sudah seringkali lakukan edukasi soal pengasuhan anak," lanjutnya.

Persoalan gizi buruk dan gizi kurang ini terungkap ketika komunitas Keluarga Mahasiswa Gadjah Mada (Kagama) melakukan program screening bayi pada Sabtu (20/1) di wilayah desa Grugu. Dari hasil pemeriksaan berat badan, tinggi badan dan ukuran kepala balita, terindikasi 6 balita mengalami gizi buruk.

Januari ini, Kagama sendiri tengah menyambut hari gizi serta mengkampanyekan pola asuh dan kemandirian keluarga.

Ketua panitia program Serunya Mengenal dan Berbagai (Serambi) 2018 dari Kagama, Akbar Insan Kamil (19) mengatakan Desa Grugu merupakan wilayah yang tak mudah dijangkau dan jauh dari akses kesehatan. Di desa Grugu ini, awalnya pihaknya hanya ingin sosialisasi pola asuh ideal orangtua pada anak. Sebabnya, informasi yang dia dapat sosialisasi kesehatan di desa Grugu sangat minim.

"Kemarin kurang lebih 60 anak kami screening. 6 di antaranya terindikasi gizi buruk dan dua lain gizi kurang," ujarnya.

Mendalami persoalan ini, analisis dari Kagama faktor pernikahan dini dianggap menjadi sebab. Usia orangtua yang tergolong belia, 16-20 tahun, pengetahuan dalam mengasuh anak tergolong rendah. Orangtua belia ini juga belum punya mental untuk merawat anak.

"Jadi anak asupan gizinya kurang diperhatikan. ini persoalan yang kami temukan," ungkapnya.

Untuk mendorong peningkatan pengetahuan itu, anak dan orangtua dilibatkan dalam satu kegiatan. Edukasi tentang pola asuh dirancang lewat kegiatan menarik mulai nonton film bersama dan ajang kreatifitas mewarnai. Orangtua diminta berkomitmen untuk memperhatikan pola asuh, lewat pengabadian aksi cap tangan anak pada lembar kain yang dibentangkan dan nantinya dipasang di balai desa.

"Lewat kain bercap tangan anak itu, semoga para orangtua terus teringatkan untuk memperhatikan asupan gizi anak," ujarnya.

(mdk/dan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP