Marak prostitusi online bukti revolusi mental cuma konsep tak matang
Merdeka.com - Ketua Pimpinan Pusat Muhammadyah, Din Syamsuddin mengaku prihatin maraknya prostitusi online di masyarakat. Terlebih lagi, kegiatan haram tersebut melibatkan kalangan terkemuka seperti artis dan politikus.
"Saya kira itu hanyalah bongkahan gunung es yang hanya kecil di permukaan, tapi besar di dalamnya," tutur Din di Istana Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (12/5).
Din menambahkan, prostitusi bukan satu-satunya masalah yang harus segera diselesaikan pemerintah. Kasus korupsi, narkoba serta aktivitas haram lainnya yang merebak di Indonesia harus ditangani makin serius oleh pemerintah.
"Inilah yang kita sebut sebagai tuna aksara moral. Tuna aksara moral, buta huruf moral ini yang melanda bangsa ini, tidak hanya kalangan awam. Tetapi kalangan yang terdidik. Ini tentu akan meruntuhkan bangsa. Oleh karena itu perlu langkah serius, komprehensif," imbuh Din.
Sebenarnya, lanjut Din, gagasan revolusi mental dinilai bagus. Namun Din menyayangkan konsep tersebut belum terlaksana dengan baik atau belum ada tanda-tanda penerapan yang baik.
"Sayang kalau hanya berhenti sampai gagasan, ini memerlukan sebuah strategi komprehensif total, dan revolusi mental. Ini jawabannya sebenarnya. Maka saya termasuk yang sangat mendukung ketika Pak Jokowi waktu Pilpres dulu menggagas itu," ungkap Din.
Meski mendukung konsep revolusi mental, Din melihat penerapannya oleh jajaran pemerintah baru ini belum maksimal. "Karena revolusi mental itu harus sebuah bing bang, ledakan dasyat yang sistematis yang membawa perubahan," imbuh Din.
Din menilai, pemerintahan Presiden Joko Widodo masih punya waktu untuk melaksanakan konsep revolusi mental tersebut dengan lebih gencar.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya