Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Manusia gerobak dan balita yang marak di bulan Ramadan

Manusia gerobak dan balita yang marak di bulan Ramadan

Merdeka.com - Jalan Warung Buncit seolah memang tak pernah tidur. Setiap saat selalu ramai. Hal ini lah yang kemudian dimanfaatkan pasangan suami istri Rahmat dan Warsih. Menunggu belas kasihan menjadi manusia gerobak.

Sekitar pukul 19.00 WIB, Rahmat mulai menarik gerobaknya kayunya dari salah satu gang menuju Jalan Raya. Sang anak yang berusia 4 tahun ditaruh di dalam gerobak. Sementara sang istri mengikutinya berjalan kaki di belakang.

Langkah kaki Rahmat lalu berhenti di sebuah ruko yang sudah terkunci. Kardus bekas mi instan lalu dia gelar di pelataran parkir di sebuah ruko remang-remang tersebut. Tanpa diberi aba-aba, sang anak segera lompat dari dalam gerobak dan langsung duduk di atas kardus bersama sang ibu.

Malam semakin larut, suara bising deru kendaraan yang melintas di Jalan Warung Buncit menjadi teman keluarga tersebut dalam mengais rejeki. Rahmat bersama istri dan anaknya tahun ini kembali menjadi manusia gerobak.

"Ya mau gimana lagi. Susah nyari kerja. Di rumah paling cuma jadi tukang cuci," ujar Warsih mengiba.

Tidak hanya Rahmat dan Warsih, sepanjang Jl Raya Warung Buncit hingga Mampang banyak dijumpai manusia gerobak di bulan Ramadan. Sahur on the road dan belas kasihan warga yang melintas adalah tujuan mereka.

Manusia gerobak di jalan yang kerap disebut 'neraka kemacetan' Jakarta tersebut seolah tradisi. Setiap tahunnya banyak manusia gerobak dadakan yang mangkal di sepanjang jalan ini.

Bahkan hampir setiap 50 meter bisa dijumpai manusia gerobak di sepanjang Jl Buncit-Mampang. Rata-rata dari mereka juga selalu membawa balita.

"Kadang ada yang ngasih makanan sama uang. Kadang cuma nasi bungkus saja, atau uang saja. Ya lumayan lah buat lebaran," ujar Rahmat.

Mengharapkan belas kasihan warga ibu kota yang sedikit lebih mampu memang menjadi tujuan mereka. Demi mencapai hal tersebut semua jalan dilakukan, termasuk membawa si kecil.

Anak-anak yang masih balita mereka bawa sekadar untuk menggugah simpati para orang yang melintas. Melihat manusia gerobak tidur beralas kardus di pinggir jalan dan membawa anak kecil tentu menyakitkan bagi sebagian orang. (mdk/hhw)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP