Mantan Danpuspom ungkap cara usut penculikan aktivis 1998
Merdeka.com - Mantan Danpuspom TNI Mayjen (Purn) Syamsu Djalal mengungkap bagaimana TNI saat itu mengungkap penculikan aktivis pada tahun 1997/1998. Tim investigasi yang dibentuk mendapatkan titik terang setelah mendapat keterangan dari korban penculikan yang selamat, Andi Arif.
Syamsu mengisahkan, saat Andi Arif diculik di Lampung, aktivis itu dibawa menggunakan mobil dengan mata tertutup ke pelabuhan untuk menuju Jakarta. Saat akan menyeberang, terjadi cekcok antara penculik dengan polisi.
"Lalu para penculik mengeluarkan surat perintah Kopassus dan diberikan kepada Polisi Militer (PM) karena yang bersangkutan minta naik ke kapal," kata Syamsu di Gedung Joeang '45, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (25/6).
Akhirnya, rombongan tersebut diizinkan naik kapal dan tiba di pelabuhan. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menggunakan mobil dengan kondisi mata Andi Arif kembali ditutup.
"Dalam perjalanan itu, si penculik bilang kalau dia anggota Kopassus berpangkat mayor dan pernah sekolah di luar negeri," katanya.
Setelah lama berselang, Andi Arif yang selamat dimintai keterangan dan mengatakan hal tersebut. Tim Investigasi lalu menelusuri anggota Kopassus berpangkat mayor yang pernah sekolah di luar negeri.
"Akhirnya ketahuan (Mayor Bambang Kristono) oknum Kopassus yang menculik dan mereka mendapat perintah dari atasannya (Danjen Kopassus Prabowo Subianto)," tuturnya.
Seperti diketahui, Letjen Prabowo Subianto diberhentikan dari dinas militer karena diduga terlibat penculikan 13 aktivis yang hingga kini masih hilang. Prabowo sempat tinggal di Yordania dan kembali ke Indonesia lalu terjun ke dunia politik.
(mdk/tyo)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya