Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Makna dalam semangkuk wedang ronde

Makna dalam semangkuk wedang ronde Wedang ronde. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Wedang ronde adalah salah satu minuman yang cocok dinikmati kala udara dingin menggelayut. Siapa sangka, minuman ini ada kaitannya dengan dewa-dewa dalam sejarahnya yang panjang. Sejarawan Jongkie Tio mengatakan, ronde yang diakrabi masyarakat saat ini asalnya dari China.

"Nama aslinya, Tangyuan. Di tanah asalnya, tidak beda dengan di Indonesia, minuman itu disajikan ketika musim dingin tiba. Namun di China minuman itu disajikan khusus untuk dewa-dewa," kata Jongkie di Semarang, Senin kemarin.

Ronde dibuat dari adonan tepung ketan yang dicampur sedikit air dan dibentuk menjadi bola kemudian direbus. Dalam penyajiannya diberi kuah jahe dicampur gula.

Menurut Jongkie, asal mulanya ronde karena orang China sangat khawatir dengan kedatangan musim dingin. Cuaca yang ekstrem tidak jarang sampai merenggut nyawa. Maka orang sana berharap belas kasih dari dewa.

"Ketika memohon pada Tuhan, orang sana memerlukan perantara dewa. Agar dewa berkenan, dibuatlah semacam sesajen yang dipersembahkan ketika berdoa di klenteng," terangnya.

Sesajen itu berupa air jahe, manisan jahe serta bola-bola tiga warna merah, hijau, putih yang di dalamnya diisi gula dan mangkuk sebagai tempat penyajian.

"Air jahe dengan maksud agar badan mendapat kehangatan. Tiga bola-bola berwana yang diisi gula, merupakan tiga rangkaian pengharapan," katanya.

Warna merah disajikan dengan harapan memperoleh keberanian menghadapi musim dingin, agar memperoleh karunia dan kebahagiaan yang disimbolkan warna hijau. Dengan dua pengharapan itu, diharapkan hati menjadi bersih, sebagaimana makna warna putih.

"Setelah semua pengharapan itu diraih, maka sebarkan hasilnya dengan ucapan yang manis, yang disimbolkan gula di dalam bola-bola," katanya.

Soal bentuknya yang bulat, lanjutnya, adalah simbol keakraban, istilah Jawa yang mewakili ungkapan itu adalah guyub.

"Makanya Tangyuan atau wedang ronde menjadi salah satu sajian ketika Cap Go Meh yaitu waktu berkumpulnya seluruh anggota keluarga setelah merayakan tahun baru Imlek," katanya.

Selain untuk perayaan Cap Go Meh, juga ada festival khusus untuk mengenang proses sejarahnya, yaitu Festival Yuanxiao atau festival lampion atau festival wedang ronde jika di Indonesia.

Jongkie menjelaskan bahwa betapa banyaknya budaya dan tradisi China yang telah mengakar di tanah Indonesia. Proses akulturasinya pun berjalan dengan damai dan serasi.

"Orang China telah sampai di Nusantara kisaran tahun 400 Masehi. Dan sejak awal telah menjalin hubungan begitu mesra, bahkan jalinan pernikahan China-Jawa bukan hal tabu. Seperti raja di Mangkunegaran," katanya.

(mdk/cob)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP