Madinah dan masyarakat madani
Merdeka.com - Ada hal yang mencolok saat memasuki kota Madinah, dibandingkan dengan Makkah. Meski sama-sama menjadi tanah Haram, Madinah memiliki karakteristik tersendiri, yakni lebih teratur. Bangunan-bangunan yang ada di Madinah terlihat lebih tertata bila dibandingkan dengan bangunan di Makkah yang terkesan lebih semrawut.
Di Madinah juga banyak dijumpai taman-taman kota yang hijau, jalan raya yang halus, serta penduduknya lebih heterogen. Suasana hijau banyak dijumpai di kanan kiri jalan. Di malam hari, juga banyak masyarakat menggelar tikar, duduk-duduk santai di pinggir jalan dan taman kota, sembari didampingi hidangan kecil dan minuman hangat.
Di hari keempat di Tanah Suci, merdeka.com menyempatkan diri berkeliling kota Madinah. Madinah tampak cantik terutama di malam hari. Kerlap kerlip lampu di sepanjang jalan raya semakin meneguhkan bahwa Madinah benar-benar sebagai 'madinatul munawwaroh' atau kota penuh dengan bercahaya.
Bahkan, Jabal Uhud yang membentang di kota Madinah dihiasi lampu-lampu cantik di malam hari. Jabal Uhud pun tampak gagah perkasa menjulang dengan deretan cahaya.
Menilik sejarah, Madinah memang didesain sebagai sebuah kota yang lebih terbuka dan pluralis. Nabi Muhammad SAW membangun Madinah pada tahun 622 Masehi, dan membuat perjanjian antara kaum Muhajirin dan Ansor dari komunitas Islam di satu pihak, dan antara kaum muslim dan nonmuslim (Yahudi dll) di pihak lain. Perjanjian ini dibuat agar mereka terhindar dari perang suku, serta sama-sama mempertahankan kondisi yang kondusif di Madinah dan sekitarnya. Perjanjian ini dikenal dengan 'Piagam Madinah'.
Piagam Madinah ini menjadi pada akhirnya menjadi landasan persatuan masyarakat Madinah secara menyeluruh yang terdiri dari unsur-unsur yang heterogen. Piagam Madinah inilah yang merupakan dasar terbentuknya Negara Madinah, dengan Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpinnya.
Di Indonesia, kita kerap mendengar istilah masyarakat madani. Istilah ini memang ada kaitannya dengan Madinah. Masyarakat madani adalah sebuah istilah yang diperkenalkan oleh Anwar Ibrahim dalam ceramahnya pada Festival Istiqlal pada tahun 1991 silam. Istilah masyarakat madani ini berasal dari bahasa arab, Madinah yang berarti kota.
Masyarakat kota yang dimaksud di sini menurut Mulyadi Kartanegara dalam sebuah tulisannya pada 1999 silam bukan diartikan sebagai geografis. Tetapi sebuah karakter yang cocok untuk penduduk sebuah kota yang memiliki sifat, adab dan perilaku atau kesopanan yang tinggi. Semakin tinggi suatu kota, semakin tinggi pula nilai-nilai kemanusiaan yang berlaku.
Dalam hal ini secara bahasa, masyarakat madani menjadi relevan dengan civil society, yang selama ini diperkenalkan oleh dunia barat. Civil society yang selama ini kita dengar pun akhirnya diartikan sebagai masyarakat madani.
Kembali ke Madinah, di musim haji tahun ini, Madinah mulai ramai dikunjungi para jemaah haji dari seluruh penjuru dunia. Ribuan orang setiap hari mulai berdatangan melewati jalur udara. Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah pun terus berdenyut dari pagi hingga dini hari, dipenuhi para calon jemaah haji yang hendak melakukan 'arbain' di Masjid Nabawi, serta ziarah ke makam Rasulullah, sebelum melaksanakan ibadah haji di Makkah.
Di Bandara ini, suasana modern tampak mencolok. Produk-produk francise barat pun juga dijajakan di bandara yang baru dibangun satu setengah tahun lalu itu. "Ahlan wasahlan fi madinatul munawwaroh."
(mdk/sho)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya