Karo Penmas Mabes Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan, terkait penyerangan Mapolres Ogan Komering Ulu (OKU) oleh puluhan anggota TNI dari Batalyon Armed 15 Matapura bukan karena minimnya komunikasi mengenai kasus penembakan terhadap Pratu Heru Octavianus yang terjadi pada dua bulan lalu. Dia menjelaskan, sejauh ini komunikasi soal kasus tersebut masih berjalan.
Boy menduga, ada ketidakpuasan mengenai proses hukum Brigadir Wijaya yang saat ini masih menjalani proses pelimpahan berkas tahap 1 di Kejaksaan Negeri. "Komunikasi ada, mungkin saja kurang memuaskan, macem-macem lah, seperti cemburu, sakit hati," kata Boy di kantornya, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (7/3).
Boy menjelaskan, proses hukum Brigadir Wijaya saat ini memang masih berjalan. Diketahui, berkas pemeriksaan kasus penembakan itu telah di limpahkan ke Kejaksaan Negeri dan tinggal menunggu proses sidang.
"Sudah sampai berkas perkara di Palembang dan tinggal menunggu pelaksanaan sidang," ujarnya.
Boy menegaskan, meski ada pergesekan antara Polri dan TNI di OKU Sumatera Selatan, ia menjamin hubungan antara kedua institusi hukum tersebut tidak ikut merambat dan tetap bersinergi mengayomi masyarakat. Dia juga mengatakan, untuk sementara proses pelayanan masyarakat di Mapolres OKU dialihkan ke polsek-polsek karena masih membutuhkan rehabilitasi Polres selama 3 bulan.
"Inikan di tingkat lokal, inikan oknum, tidak ada hubungan antara institusi tidak ada masalah," papar Boy.
Saat api yang disulut anggota TNI melalap Markas Polres OKU
16 Tahanan Polres OKU kabur saat diserang Yon Armed
Dikeroyok TNI di OKU, Kapolsek Martapura kritis
Mabes Polri: 4 Polisi di OKU luka diserang TNI
'Personel TNI bakar Mapolres OKU karena komunikasi buruk'
Dengan sandal butut dan kaos lusuh, Soekarno tinggalkan istana
Sampai meninggal Soekarno tak punya rumah pribadi
Berbalik dukung BLSM, Jokowi takut dengan Agung Laksono?
Pandu Birantoro, orang Indonesia di balik Superman Smallville
Kostrad dan tentara AS latihan perang bersama di Karawang
Ditinggal ibu beli es, balita terkunci di mobil hingga lemas
Bebani APBN tiap tahun, lumpur Lapindo seperti parasit
Bantuan rakyat miskin senilai jengkol 3 kilogram
Kostrad dan pasukan elite AS terjun di Karawang
Kasus Luthfi Hasan jadi bahan soal ujian SMK di Bogor