Lokalisasi Gang Dolly \'beku\' selama Ramadan
Merdeka.com - Siapa yang tak kenal lokalisasi Dolly di Surabaya, Jawa Timur. Aroma prostitusi yang begitu menyengat, membuat tempat itu tak pernah sepi pengunjung sekalipun memasuki bulan Ramadan seperti saat ini.
Setiap hari, baik warga Surabaya maupun dari luar kota, kerap datang ke tempat ini, hanya sekadar meregangkan otot-otot yang lelah. Selain tamu lokal, turis-turis mancanegara juga kerab menyambangi Gang Dolly. Maklum saja, tempat ini sudah terkenal hingga ke Asia.
Untuk sampai ke Gang Dolly, biasanya para wisatawan mancanegara itu dibantu seorang pemandu. Sesampainya di gang itu, maka tamu-tamu bisa menjumpai wisma Aquarium. Kenapa disebut Aquarium, rupanya antara jalan dan wisma-wisma itu hanya disekat oleh kaca tembus pandang. Dari seberang jalan, dengan telanjang mata deretan wisma mulai sejak Jalan Putat Jaya, Jarak, hingga Jalan Dolly bisa terlihat dengan jelas.
Setiap hari, suasana di lokasi itu cukup ramai. Tak jarang, bila malam tiba, jalan raya yang menghubungkan Jalan Diponegoro atau Jalan Girilaya menuju Jalan Banyurib Kidul atau Jalan Putat Jaya, Jarak, dan Dolly dan Dukuh Kupang, menjadi macet tak karuan.
Ramainya pengunjung yang ingin singgah melemaskan urat syarat di tempat itu menjadi keuntungan tersendiri bagi warga sekitar untuk mengais rezeki. Mulai dari memanfaatkan halamannya untuk area parkir, toko hingga menjadi makelar wisma.
Meski tetap beroperasi selama bulan Ramadan, aktivitas di Gang Dolly tidak seramai biasanya. Hanya pengguna jalan yang sekadar melintas. Semua wisma Aquarium di tempat itu ditutup.
Gemerlap cahaya lampu warna-warni yang biasa menghiasi wisma Aquarium juga tampak dimatikan. Di pintu masuk, terlihat jelas kertas putih bertuliskan, 'TUTUP'
"Setelah ada sweeping menjelang puasa lalu, dan seringnya petugas Satpol PP menggelar razia, tempat ini jadi sepi. Kalau sudah begitu ya rezekinya jadi seret," kata Warno, salah satu pedagang rokok di kawasan Dolly.
Pengumuman yang ditulis dengan huruf kapital berukuran besar itu, lanjut dia, adalah buah karya ormas dan pihak kepolisian yang sebelumnya melakukan razia saat menjelang puasa kemarin. Dan hingga memasuki hari ke sepuluh puasa imbauan melalui tulisan itu masih tertempel rapi. Otomatis, hingar bingar prostitusi di sini tak lagi tampak.
Wisma Kalimantan I hingga IV contohnya, yang jika hari-hari biasa tampak ramai kini malah sepi. Pemandangan yang sama juga ditemukan di tempat-tempat karaoke lainnya. Semunya ditempili kertas dengan imbauan TUTUP.
"Kalau begini ya nggak ada pemasukan. Jalan satu-satunya cari rezeki buat lebaran besok ya dengan jalan sembunyi-sembunyi. Kalau ada pelanggan yang menghubungi kita terus janjian di hotel mana, baru kita bisa dapat rezeki buat mudik di kampung," ujar Sinta (bukan nama sebenarnya) yang mengaku sebagai pekerja seks komersial (PSK) di Dolly kepada merdeka.com.
Sinta menyadari pekerjaannya itu memiliki resiko yang cukup tinggi ketimbang hari-hari biasa.
"Contohnya seperti Kamis kemarin. Saya baca berita ada delapan pasangan kena razia Satpol PP di hotel. Kalau seperti itu kan urusannya malah jadi runyam, tapi mau bagaimana lagi, wong kita cari duit," keluhnya.
Tak hanya di tempat ini (Putat Jaya, Jarak dan Dolly). Di sepanjang Jalan Diponegoro, yang biasa dijadikan tempat mangkal para PSK, kini juga terlihat sepi.
Rupanya instruksi yang dikeluarkan pemerintah daerah untuk menutup semua lokalisasi, tempat hiburan malam, selama bulan Ramadan, benar-benar dipatuhi warga. ketakutan mereka semakin bertambah karena setiap hari Satuan Polisi (Satpol) PP berkeliaran melakukan razia.
"Kami akan terus melakukan razia selama Ramadan. Razia tidak hanya pada tempat hiburan malam, atau rumah hiburan umum, tetapi kami juga akan melakukan razia berbagai penyakit masyarakat. Ini komitmen selama Ramadan," tegas Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya, Irvan Widyanto beberapa waktu lalu. (mdk/lia)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya