Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Lepas penat perjalanan mudik di pinggir Hutan Kubangkangkung Cilacap

Lepas penat perjalanan mudik di pinggir Hutan Kubangkangkung Cilacap Warung di tengah hutan Jalur lintas Selatan cilacap. ©2017 merdeka.com/Abdul Aziz

Merdeka.com - Melewati hutan Kubangkangkung di Kecamatan Kawunganten Cilacap, pemandangan tak biasa terlihat di pinggiran hutan. Di antara pohon-pohon karet dan pinus menjulang, puluhan gubuk dari bambu berdiri menawarkan keteduhan dari penatnya perjalanan.

Di hutan milik Perum Perkebunan Nusantara IX yang merupakan jalur alternatif mudik jalan lintas selatan (JLS) Kabupaten Cilacap itu, nampak beberapa pemudik melepas lelah. Kebanyakan dari mereka telah berkendara dari Jawa Barat melewati Cukengleuleus-Sidareja-Kawunganten menuju ke Cilacap kota atau sebaliknya.

Sejak Kamis (22/6) para pemudik memang kerap melewati jalur yang berliku dan naik turun ini. Sedang dari data penghitungan keluar masuk KBM R2-R4 Jabar-Jateng, tercatat pada Rabu (21/6) sebanyak 7.843 mobil pribadi dan 7.661 masuk ke wilayah Jawa Tengah dari Jawa Barat.

Salah satu pemilik warung di pinggiran hutan tersebut, Agus Supriyono (25) bercerita setiap mendekati Lebaran hutan Kubangkangkung memang kerap dilewati banyak pemudik. Setiap Lebaran pula, beberapa warga lantas membuat gubuk-gubuk sebagai tempat beristirahat pemudik. Di warung-warung itu, warga menjual kelapa muda juga kuliner khas Nusantara mulai dari soto, karedok sampai kupat tahu.

"Saat ini di sepanjang hutan ini kurang lebih ada 21 warung yang menyediakan beberapa gubuk peristirahatan pemudik," kata Agus yang telah berjualan di pinggiran hutan sejak empat tahun.

Ia mengatakan, keramaian pemudik pada Lebaran tahun ini baru terlihat sejak Kamis (22/6) siang. Kebanyakan para pengendara motor dari arah Jawa Barat. Umumnya kata dia, keramaian ini nantinya sampai H+7 Lebaran.

"Kalau mobil masih jarang. masih hitungan jari yang mampir," ujarnya pada Merdeka.com, Jumat (23/6).

Keberadaan warung-warung tersebut dikatakan Agus mulai buka sejak pukul 08.00 sampai 17.00 WIB. Mereka memang tak sanggup membuka sampai malam hari karena tak adanya lampu penerangan. Di warung-warung tersebut, umumnya para pemudik tiduran di gubuk melepas dahaga atau lapar barang setengah atau satu jam.

Eko, salah satu pemudik dari Jawa Barat dengan tujuan Maos Cilacap memang saban tahu lebih nyaman melewati jalur alternatif tersebut karena tak terlalu padat pengendara. Ia memang saban kali mudik, kerap mampir beristirahat di warung-warung pinggiran hutan Kubangkangkung karena dinilai asri dan sejuk.

"Saya merasa nyaman saja beristirahat di sini. Bawaannya jadi tenang saja," kata eko.

Dari pantauan merdeka.com, di wilayah hutan Kubangkangkung sendiri selain warung-warung juga terdapat obyek wisata berupa agro wisata Waduk Koebangkangkoen. Obyek wisata dan warung-warung di pinggiran hutan tersebut, mungkin bisa jadi pilihan bagi pemudik yang ingin melepas lelah sekaligus menikmati rindang pepohonan, mengaso sembari berwisata kuliner barang sejenak sebelum meneruskan perjalanan ke tempat tujuan. (mdk/cob)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP