Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Lebih dekat dengan Bripda Nurysta, sang Polwan Penari

Lebih dekat dengan Bripda Nurysta, sang Polwan Penari Nurysta Thamarindus Sugiarto. ©2017 Merdeka.com/imam mubarok

Merdeka.com - Di balik seragam korps bhayangkara yang selalu dikenakannya, tersimpan bakat terpendam dari diri anggota Polres Kediri Kota, Bripda Nurysta Thamarindus Sugiarto. Dia disebut polisi seniman karena giat mengajar seni tari dan sekaligus menciptakan kreasi seni tari sendiri.

Sehari-hari Bripda Nurysta Thamarindus Sugiart bertugas di Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim Polres Kediri Kota. Perempuan kelahiran Nganjuk, 1 November 1992 dari pasangan Sri Agustina dan

Bambang Sugiharto, ini biasa disapa Tita. Sejak kecil dia sebenarnya bercita-cita menjadi penari. Sejak SD hingga SMA dia terus berlatih menari di sanggar Ayu Sekar Putih di Kertosono Nganjuk.

Selama hampir kurang lebih 12 tahun les menari, Tita mampu menguasai sedikitnya 7 tari dan sekaligus memegang sertifikat tari. Ketujuh tari yang dikuasai antara lain tari jaran pegon, salepok, wareng, merak, bondan, remo pendek dan gambyong. Dari kemahirannya menari inilah akhirnya dia memilih meneruskan kuliah di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prodi Tari.

nurysta thamarindus sugiarto

"Alhamdulillah setelah melalui perjuangan yang panjang akhirnya diterima di Unesa Fakultas Sendratasik ( Seni Drama Tari dan Musik) Prodi Tari. Yang lebih membanggakan di Prodi Tari ini dari hampir kurang lebih 500 peminat, yang diterima hanya 28 dan itu termasuk saya," kata Tita pada merdeka.com, Rabu (15/2).

Kuliah di Unesa dijalani hingga semester VI. Dia pun menguasai puluhan seni tari antara lain remo pendek, remo resnowati, remo bolet, remo jombangan , remo munalifata , gandrung, jejer, topeng bapang , topeng medura , jaranan trenggalek , tari jogja, bali , nusantara , maduraan dan lain sebagainya.

Namun di tengah perjalanan semester VI, terbersit cita-citanya yang lain yakni menjadi anggota polisi.

"Saat itu saya sedang periksa ke puskesmas oleh perawatnya diberitahu kalau ada pendaftaran polisi. Kabar itu langsung saya beritahukan ayah dan direstui, namun sempat ada penolakan dari ibu," ungkap Tita.

Besarnya keinginannya akhirnya membawanya mendaftarkan diri sebagai polisi dan menjadi Diktuk Brigadir Polwan pada 2014. Bangku kuliah ditinggalkan demi menggapai cita-citannya. "Saat proses pendaftaran dan hingga diterima saya tidak lapor kampus, sebab serba salah," jelas Tita.

nurysta thamarindus sugiarto

Optimismenya yang tinggi membawa Tita diterima menjadi anggota polisi dan menjalani pendidikan selama 7 bulan. "Setelah proses selesai saya baru laporan ke kampus dan akhirnya pindah kuliah dan transfer ke kampus di Kediri setelah tahu penempatan di Polres Kediri Kota,” ungkapnya.

Setelah menjadi polisi bukan berarti bakat yang diasah sejak kecil ditinggalkan begitu saja. Dia mendirikan sanggar tari dan memiliki 25 murid. Semua muridnya tidak dikenakan biaya apapun. Dia selalu menciptakan tari kreasi baru dan ditampilkan di berbagai acara. Dua karya tari yang telah ia ciptakan antara lain operet anak metamorfosa, dan yang kedua dunia malam.

nurysta thamarindus sugiarto

"Meski pekerjaan saya saat ini polisi, namun harapan ke depan saya juga akan lebih juga memfokuskan pada dunia tari. Dan mengembangkan sanggar yang telah saya rintis di Jatikalen Nganjuk. Tujuannya generasi muda akan lebih cinta pada seni budaya Indonesia yang adilihung. Tidak ketinggalan pesan kamtibmas selalu saya sampaikan kepada anak didik saya setiap kali ada kesempatan," harapnya.

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP