Lebih dari 100 anak dan perempuan di Bali jadi korban kekerasan
Merdeka.com - Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) Bali mencatat kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan mencapai 100 kasus pada 2016. Angka kekerasan itu ini lebih banyak dibanding tahun lalu.
"Data sampai November sudah lebih dari 100 kasus yang didampinginya dengan penanganan di kepolisian sampai pengadilan," kata Direktur APIK Bali, Ni Luh Putu Nilawati di Singaraja, Bali, Minggu (27/11), demikian dilansir Antara.
Jumlah itu meningkat pada 2015 lalu tercatat 87 kasus. Banyaknya kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan karena masyarakat masih belum memahami kategori kekerasan itu sendiri.
Nilawati menambahkan, para aktivis dan semua elemen masyarakat perlu saling bersosialisasi dan memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk mendeteksi tindak kekerasan. Sebab, pelaku kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan tindakan pidana.
"Kita perlu melakukan sosialisasi sehingga mereka menyadari bahwa itu adalah kekerasan, suatu kejahatan yang dapat melanggar undang-undang, setelah kita mengenali semua," tambahnya.
Sementara itu, Buleleng menjadi satu dari tiga kabupaten di Bali dengan tingkat kekerasan terhadap anak dan perempuan yang berkategori tinggi dibandingkan daerah lain di Pulau Dewata.
Kekerasan biasa disebabkan oleh faktor pendidikan dan kesenjangan perekonomian. Bali sebagai daerah pariwisata justru menciptakan kesenjangan di masyarakatnya, yang menjadi satu penyebab kekerasan.
(mdk/tyo)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya