Lawan Kelompok Penebar Kebencian di Dunia Maya
Merdeka.com - Di era digital sekarang ini segala informasi sudah sangat terbuka. Namun ada kelompok-kelompok yang memanfaatkan dunia maya untuk menyebarkan propaganda radikalisme, ujaran kebencian dan berita bohong (hoaks) untuk memecah belah persatuan bangsa.
Peneliti Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Adnan Anwar menilai perlu adanya relawan milenial dalam menebar konten-konten perdamaian. Hal ini dilatar belakangi kondisi makin maraknya konten negatif.
"Melihat kondisi dunia maya yang tidak sehat akhir-akhir ini tentunya keberadaan relawan penebar konten perdamaian di dunia maya sangat penting sekali. Karena ada desain dari kelompok-kelompok yang memang secara sistematis menyebarkan berita kebohongan atau kebencian," katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (5/12).
Lebih lanjut Adnan menjelaskan, kelompok-kelompok tersebut selama ini sangat serius dan masif dalam menggunakan internet melalui media sosial. Untuk itu harus ditandingi dengan berbagai cara.
"Kenapa harus dilakukan secara sistematis? Karena apa yang dilakukan kelompok-kelompok tersebut merupakan propaganda. Jadi harus dilawan dengan strategi kontra propaganda yang tepat," kata mantan Wakil Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini.
Menurutnya, dalam melaksanakan penangkalan secara sistematis juga harus dirumuskan strateginya secara benar, lalu segmentasi berdasarkan umur, dan juga berdasarkan demografi. Umur itu diklasifikasikan apakah termasuk generasi milenial atau generasi tua. Kemudian demografi itu apakah desa, sub urban, urban sampai ke metropolitan yang berbeda-beda, termasuk status pekerjaan.
"Kadang-kadang satu isu disebar oleh segmen semua kelompok tapi hasilnya sama, yakni menimbulkan kegaduhan. Jadi ini harus ada upaya perlawanan yang tersistem," tuturnya.
Jika diteliti lebih lanjut, menurutnya, antara kelompok yang setuju menggunakan berita hoaks dan ikut mereproduksi dibandingkan dengan kelompok yang tidak setuju tentu jumlahnya sangat besar kelompok yang tidak setuju. Masalahnya, kelompok yang tidak setuju ini selama ini lebih banyak bersikap diam.
"Ada istilah di masyarakat kita ini mengatakan 'Yang Waras Lebih Baik Ngalah'. Padahal jadi orang baik atau waras itu tidak boleh diam. Yang waras ini ya harus ikut terlibat menangkal secara aktif, menjadi relawan secara sadar," imbuhnya.
Dia juga menyambut baik dengan adanya relawan Duta Damai Dunia Maya yang sudah dibentuk Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam menebar konten perdamaian. Menurutnya, konten yang dibuat harus memiliki kemampuan atau akses terhadap sumber-sumber pengambilan kebijakan sehingga dia bisa mendapatkan informasi yang kredibel.
"Dan itu harus di-share terus menerus. Gerakan ini bisa membendung propaganda ujaran kebencian atau berita hoaks," tandasnya.
(mdk/did)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya