Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Lalu lintas Bogor tambah macet, Bima akan evaluasi sistem satu arah

Lalu lintas Bogor tambah macet, Bima akan evaluasi sistem satu arah one way di bogor. ©2016 merdeka.com/yudi alif

Merdeka.com - Sejumlah masyarakat Kota Bogor yang merasakan langsung dampak negatif dari kebijakan Sistem Satu Arah (SSA) di seputar Kebun Raya Bogor (KRB) tepatnya di ruas Jalan Otista, Ir H Juanda, Jalak Harupat hingga Pajajaran, mendesak Pemkot Bogor membatalkan kebijakan yang dinilai terkesan dipaksakan.

Ahmad Rifai (28), warga Kawung Luwuk, Bogor Utara, Kota Bogor menuturkan kebijakan ini harus dievaluasi dan tidak perlu dilanjutkan, selain merugikan dari segi imateril, energi, juga banyak mengorbankan waktu dan biaya untuk membeli bahan bakar minyak (BBM).

"Menurut saya pemberlakuan satu arah ini sungguh sangat konyol dan harus segera dibatalkan, karena akan terjadi penumpukan volume kendaraan, di jalur-jalur yang semula tidak terlalu macet parah. Seperti di Jalan Kapten Muslihat, Empang yang mau ke Sempur. Macetnya benar-benar gila, bendi motor saya dari full sampai setengah lagi. Kebijakan ini mengorbankan banyak orang, korban waktu, tenaga, biaya pula," keluhnya, Jumat (1/4).

Hal senada diungkapkan Sumiati (24), warga Gang Ardio, Kelurahan Cibogor, Bogor Tengah, Kota Bogor meminta pemerintah untuk segera membatalkan SSA yang baru satu hari diberlakukan.

"Ini baru satu hari, bagaimana besok dan seterusnya. Kalau memang terus dipaksakan bakal banyak waktu yang dikorbankan. Sebab saya bekerja di Bogor Trade Mall yang biasanya cukup satu kali naik angkot dengan jarak tempuh 20 menit, sekarang bisa satu jam, karena harus mengelilingi Kebun Raya dan Istana Bogor. Sebaiknya lebarkan dulu jalan, terus perbanyak fasilitas rambu penunjuk arah, biar masyarakat enggak bingung hingga akhirnya terjebak kemacetan," keluhnya.

Menanggapi banyaknya keluhan warga, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengakui kebijakannya dalam mengatasi kemacetan di hari pertama uji coba SSA, banyak terjadi kemacetan parah, khususnya di kawasan Tugu Kujang. Hal ini disebabkan, adanya penyempitan jalan, yang semula tiga lajur menjadi dua lajur.

"Antisipasinya lampu merah ke Jalan Otista harus lebih lama dan kemudian kita juga akan bongkar pagar-pagar (Pembatas Jalan) yang ada di sana," ujar Bima saat meninjau langsung penerapan SSA.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, selain karena terjadinya penyempitan jalur, juga tak sedikit pengendara yang belum paham perubahan rute atau jalur.

"Kami juga akan evaluasi titik-titik mana yang masih menjadi persoalan. Selain itu juga didapati sejumlah warga yang masih kebingungan dengan penerapan SSA. Sebagian juga belum paham. Sehingga semakin menambah kemacetan yang ada," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Bogor Kota AKP Irwandi mengungkapkan berdasarkan hasil evaluasi sementara, terdapat dua titik lokasi yang mengakibatkan antrean panjang kendaraan. Titik ini masing-masing yaitu di Jalan Ottista sekitar Tugu Kujang dan di Jalan Ir H Juanda, tepatnya di simpang tiga Denpom-Istana Bogor-Regina Pacis.

Menurutnya kepadatan kendaraan yang terjadi di Jalan Ottista ini diakibatkan adanya angkot yang ngetem serta menaikan dan menurunkan penumpang di depan SDN Bangka. Selain itu, adanya penyempitan jalan saat di jembatan Sungai Ciliwung.

"Selain karena adanya aktivitas angkot yang ngetem dan berhenti di situ, kepadatan di sekitar Jalan Otista juga karena penyempitan jalur di jembatan," jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, uji coba SSA di tengah Kota Bogor tepatnya lingkar Kebun Raya dan Istana Bogor searah jarum jam ini berlangsung selama empat hari (1-4 April), dengan tujuan untuk mengatasi kemacetan yang terjadi hampir setiap hari tak mengenal waktu. Namun dikarenakan minimnya perubahan atau pelebaran jalan dan kurangnya sosialisasi menyebabkan kemacetan parah di sejumlah ruas jalan alternatif.

(mdk/cob)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP