Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kurangi pengangguran, Rachmat Gobel akan optimalkan 'tanah kutukan'

Kurangi pengangguran, Rachmat Gobel akan optimalkan 'tanah kutukan' Rachmat Gobel. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Caleg DPR dapil Gorontalo dari Partai Nasional Demokrat (NasDem) nomor urut 1 Rachmat Gobel berjanji akan mendorong optimalisasi 100 ribu hektare lahan pertanian agar bisa digarap oleh warga Gorontalo. Hal tersebut disebut oleh Rachmat untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan di Gorontalo.

Rachmat mengatakan, optimalisasi lahan pertanian seluas itu karena sebagai besar penduduk Gorontalo merupakan petani. "Untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran, 100 ribu hektare tanah pertanian akan kita optimalkan. Karena kan penduduk Gorontalo juga sebagian besar merupakan petani," kata Rachmat, melalui siaran pers di Jakarta, Rabu (31/10).

Tak hanya mengoptimalkan lahan saja, Rachmat juga akan menerapkan cara bertani yang sudah dirinya terapkan di Desa Tridarma, Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo. Di sana, Rachmat mengubah tanah yang sebelumnya dijuluki 'tanah kutukan' menjadi tanah yang bisa ditanami apa saja.

Menurut Rachmat, dengan cara bertani yang dia terapkan dengan membawa beberapa mentor dari Jepang, penghasilan petani di wilayah tersebut bisa naik 4 kali lipat. Tak hanya itu, Utusan Khusus Presiden untuk Jepang tersebut juga menyebut komoditas melon dengan harga jual tinggi bisa ditanam di tempat tersebut.

"Di Pulubala, dalam beberapa bulan, yang dulu disebut 'tanah kutukan' di sana, kita coba usahakan, hasilnya alhamdulillah. Hasilnya dari yang saya buat contoh pertanian di sana, bisa 4 kali lipat dari yang biasa," tutur Rachmat.

"Yang membuat saya heran, ada melon yang harganya Rp 2 juta, bisa tumbuh di sana, di tanah Gorontalo," lanjut Ketua DPP NasDem bidang perekonomian itu.

Lebih lanjut, Komando Pemenangan NasDem Provinsi Gorontalo itu mengatakan bila tidak ada yang tidak mungkin bisa ditanam di Gorontalo. Rachmat menyebut yang harus diubah hanyalah budaya kerja dan cara kerja saja untuk membuat Gorontalo lebih sejahtera.

"Itu baru budaya kerja dan cara kerja yang kita ubah dan belum menggunakan teknologi terbaru," ucapnya.

Karenanya, Rachmat yang diberi gelar 'Ti Bulilango Hungia' atau 'Pemberi Cahaya Negeri' itu mengatakan bila terlalu sombong bila warga Gorontalo tidak menghormati tanah tempat mereka yang ternyata menyimpan kesuburan di dalamnya. Tak hanya itu, Rachmat juga menyebut bila terlalu sombong bila warga menyalahkan cuaca yang dianggap tidak bersahabat untuk membuat tanah Gorontalo bisa menghasilkan hasil tani.

"Jadi sangat sombong kita kalau kita tidak menghormati tanah kita, ternyata ada kesuburan di bawah tanah kita. Terlampau sombong kalau dikatakan alam di Gorontalo cuma ada panas dan panas sekali sehingga tidak ada hasil tani yang luar biasa," tuturnya.

(mdk/bal)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP