Korupsi Hambalang, pengakuan Anas atau Nazaruddin yang benar?
Merdeka.com - Dulu mereka kawan baik. Sahabat di dunia politik dan rekanan bisnis. Setelah Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ) beraksi, pertemanan Anas Urbaningrum dan Muhammad Nazaruddin pun tinggal kisah masa lalu.
Keduanya kini saling tuding soal proyek mega proyek Pembangunan Fasilitas Olahraga Hambalang di Bogor, Jawa Barat. Masing-masing saling menyalahkan. Nazaruddin mengaku bermain dalam proyek ini, namun dia menegaskan Anas Urbaningrum juga terlibat.
"Kalau mengatur di DPR Mas Anas. Dari Kemenpora, ada Wafid Muharam ," kata Nazaruddin saat bersaksi dalam sidang Deddy, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (16/1).
Nazaruddin mengatakan, Anas adalah orang yang memanggil meminta Anggota Komisi II DPR , Ignatius Mulyono , supaya menghubungi Kepala Badan Pertanahan Nasional saat itu, Joyo Winoto . Saat itu, suami Athiyyah Laila itu masih menjabat Ketua Fraksi Partai Demokrat . Anas meminta supaya Ignatius membantunya mengurus sertifikat hak pakai tanah Hambalang.
Nazaruddin juga bersaksi untuk melobi supaya skema anggaran multi years lolos, dia mengaku sempat melakukan pertemuan dengan Menkeu Agus Marto ditemani Anas Urbaningrum di sebuah restoran masakan Jepang bernama Eby, di Jakarta.
Saat itu, dia juga menghadirkan Direktur PT Dutasari Citra Laras (PT DCL), Mahfud Suroso, dan pemilik M'Sons Capital sekaligus pemilik saham PT DCL, Munadi Herlambang.
"Pernah saya dengan Mas Anas bertemu Agus Marto di restoran jepang Eby. Setelah berbicara, Mas Anas bilang ke Pak Agus ini ada masalah sedikit soal anggaran proyek Hambalang. Kemudian disuruhnya Mahfud dan Munadi masuk. Pak Agus bilang, 'Mas, ini akan saya bantu dan saya urus, tapi ada surat yang kurang tolong dilengkapi.'," kata Nazaruddin saat bersaksi dalam sidang Deddy, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (16/1).
Topik pilihan: Ormas Anas Urbaningrum | Partai Demokrat
Namun Anas membantah pertemuan itu pernah digelar. Dia mengaku baru mengenal Agus Marto tahun 2012. Saat Hambalang sedang diutak-atik tahun 2009, Anas mengaku belum berkenalan dengan Agus Marto.
"Sebelum itu saya tak kenal," kata Anas.
Anas balik menyerang Nazaruddin. Menurut Anas, justru Nazaruddin yang melakukan perjanjian terselubung dengan Ignatius Mulyono , mengurus sertifikat hak pakai tanah proyek Hambalang melalui Kepala Badan Pertanahan Nasional saat itu, Joyo Winoto .
Anas juga menampik tudingan soal penerimaan uang sejumlah Rp 2,21 miliar dari PT Adhi Karya , sebagai komisi proyek Hambalang.
Ketua Umum Perhimpunan Pergerakan Indonesia itu juga menyangkal tuduhan jaksa soal pernah meminta Nazaruddin dan Grup Permai beserta PT Duta Graha Indah mundur dari proyek Hambalang. Dia juga menampik pernah meminta PT Adhi Karya mengganti semua uang yang sudah digelontorkan oleh Nazaruddin buat menggaet proyek bernilai Rp 2,5 triliun itu.
"Sama sekali tidak pernah. Urusan proyek Hambalang saja saya tidak pernah dapat cerita, tidak tahu. Bagaimana saya meminta Nazaruddin dan PT DGI mundur dan urusan lain-lain," tandas Anas.
Anas juga menampik pernah menerima fasilitas tertentu dari pegawai Adhi Karya , Indrajaya Manoppol, dan kader Partai Demokrat , Munadi Herlambang, beserta ayahnya, Muchayat. Yakni pemberian telepon seluler BlackBerry, akomodasi, serta uang jalan buat para pendukung Anas saat Kongres Partai Demokrat di Bandung 2010.
Maka tinggal menunggu waktu pengakuan siapa yang benar antara dua mantan sahabat ini.
(mdk/ian)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya