Korban penculikan penipu modus mualaf kembali ke keluarga
Merdeka.com - WN, remaja 15 tahun ini sudah setahun dua bulan tak bertemu dengan keluarganya di Tangerang, Banten. WN dibawa Imanuel Fajar Wibowo untuk diajak mencari sumbangan ke masjid-masjid dengan modus sebagai mualaf.
Awalnya WN meninggalkan rumahnya di Kelurahan Pasar Kemis, Kecamatan Jatiuwung, Kota Tangerang, karena masalah keluarga. Ketika itu, WN masih berstatus pelajar kelas 1 SMP di sana. "Dia tidak pulang selama dua hari karena masalah keluarga," kata Kapolres Metro Bekasi, Kombes Candra Sukma Kumara.
Selama dua hari itu, WN berada di sebuah warnet. Di saat bersamaan dihampiri oleh Imanuel Fajar Wibowo, tersangka penipuan dengan modus meminta sumbangan sebagai seorang mualaf. WN lalu diajak untuk menemaninya.
"Pelaku menculik korban dengan iming-iming mendapatkan uang Rp 300-1 juta per hari. WN pun tertarik lalu ikut tersangka," kata dia.
Rupanya yang dijanjikan itu hanya omong kosong belaka. Pendapatan mencari sumbangan tak lebih dari Rp 200 ribu. WN meminta pulang ke rumahnya tapi dihalangi terus. Bahkan, dibawa sampai ke Bekasi.
"Tidur di dalam warnet, kalau mandi di masjid," tutur WN.
WN mengaku senang bertemu dengan keluarganya, setelah kasus itu terungkap oleh aparat Polsek Tambun.
Kasus itu terbongkar setelah Imanuel datang ke rumah Ustaz Ridwan di Desa Karang Satria, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi pada Rabu (23/2). Gara-gara tak diberi sumbangan, Imannuel mengumpat dengan kata tak sopan, sehingga santri di sana tersinggung.
Alhasil, Imanuel diamankan warga, sempat dipukuli. Bahkan, masyarakat yang terpengaruh isu penyerangan ulama oleh orang gila mengaitkan tersangka adalah orang gila, bahkan isu kebangkitan PKI. Video penangkapan itu pun viral di media sosial.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya