Korban Keracunan Tongkol Bakar Capai 250 Orang, Pemerintah Duga Ada Pedagang Nakal
Merdeka.com - Korban keracunan akibat memakan ikan tongkol bakar pada perayaan tahun baru kemarin, terus bertambah. Data terakhir yang dirilis Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember pada Kamis (02/01) siang, jumlah korban tembus ke angka 250 orang. Mereka tersebar di 35 Puskesmas dan Puskesmas Pembantu serta beberapa rumah sakit di Jember.
Beberapa instansi pemerintah sudah terjun langsung ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger, sentra ikan laut di Jember.
"Saya bersama Loka POM (Pengawasan Obat dan Makanan) Jember dan Dinas Kesehatan Jember sudah kumpulkan data ke sana. Ada dugaan penjual menjual stok ikan lama yang proses penyimpanannya sudah tidak benar," ujar Plt Kepala Dinas Perikanan Jember, Murtadlo, kepada wartawan, Kamis (2/1).
Hal ini terkait melonjaknya permintaan ikan tongkol jelang pergantian tahun. "Mungkin penjualnya sudah paham, kalau tahun baru permintaan ikan melonjak untuk tradisi bakar ikan," lanjut Murtadlo.
Indikasi tersebut, menurut Murtadlo terlihat dari harga jual ikan tongkol pada tanggal 31 Desember 2019. Pada saat itu, masyarakat dari berbagai kecamatan di Jember banyak yang datang ke Puger untuk berburu ikan segar.
"Pada tanggal itu, kami dapat informasi ada ikan tongkol yang dijual di harga Rp 6 ribu per kilogram. Ini sudah tidak lazim. Karena wajarnya di kisaran Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu per kilogram. Memang sebelumnya, Puger lagi musim panen ikan sehingga mungkin banyak stok terbuang," papar Murtadlo.
Selain dugaan pedagang nakal yang menjual ikan stok lama, kejadian keracunan massal diduga terkait dengan cara penyimpanan yang tidak benar. Terutama oleh pedagang.
"Semua ikan, kalau cara penyimpanannya tidak benar, akan beracun. Jangankan dua hari, semalam saja, sudah mengandung racun," lanjut Murtadlo.
r"Kadang masyarakat tidak paham juga. Kalau dirasa dingin (karena ada es batu), dianggap masih segar," lanjut Murtadlo.
Diakui Murtadlo, ada beberapa jenis ikan tongkol yang potensi mengandung kadar toxic (racun) lebih tinggi. Namun itu juga tergantung cara penyimpanan dan pengolahannya.
"Tongkol hitam, itu yang diduga di konsumsi para korban. Memang jenis itu kadar toxic nya agak tinggi kalau pengolahannya tidak benar," papar Murtadlo.
Selain cara penyimpanan, kasus KLB keracunan massal akibat tongkol bakar ini juga diduga karena cara pengolahan yang tidak benar. Dibandingkan dibakar, ikan sebenarnya lebih aman digoreng. Ikan bakar baru aman dikonsumsi jika dibakar secara merata.
"Kalau digoreng kan tenggelam (di dalam minyak) sehingga semua bagian dalam tubuh ikan itu matang. Tapi kalau dibakar kan tidak semua masyarakat ahli. Asal di luar (tubuh ikan) kelihatan hitam, dianggap sudah matang," jelas Murtadlo.
Hingga berita ini diturunkan, Dinkes Jember masih mendalami kasus ini. Pihak kepolisian juga sudah terjun melakukan pendalaman.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya