Korban Erupsi Semeru Bakal Direlokasi ke Lahan Perhutani
Merdeka.com - Ketua Komisi VIII DPR RI Yandri Susanto meminta pemerintah mempercepat relokasi tempat tinggal korban erupsi Gunung Semeru. Hal itu disampaikan Yandri dalam rapat kerja Komisi VIII bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
"Mereka trauma berat dan tidak mau lagi untuk kembali ke rumah mereka semula," kata Yandri di Kompleks Parlemen Senayan, Senin (13/12).
Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengatakan, telah melapor kepada Presiden Joko Widodo agar lahan Perhutani menjadi lahan untuk rumah baru para pengungsi.
"Terkait relokasi Bapak Bupati sudah menunjuk beberapa tempat dan kami sudah lapor Pak Presiden untuk mendapatkan izin Perhutani terkait lahan itu," kata Suharyanto.
Suharyanto menyatakan BNPB siap membantu proses pembangunan rumah baru untuk relokasi para korban. Dia juga menyebut selama menunggu rumah relokasi, para pengungsi mendapatkan dana tunggu setiap bulan selama 6 bulan.
"Apabila lahan sudah siap kami akan bantu pembangunannya. Selama menunggu, pengungsi mendapat dana tunggu selama enam bulan. Untuk rumah yang rusak berat dapat bantuan Rp50 juta, sedang Rp25 juta, yang sudah tidak bisa ditempati lagi dibangunkan di lahan batu relokasi," ujar dia.
Selain itu, Suharyanto juga melaporkan bahwa status tanggap darurat di Semeru juga diperpanjang. "Status tanggap darurat masih diberlakukan beberpaa waktu ke depan, pencarian yang hilang juga kami tambah 14 hari," pungkas dia.
6 Hektare Lahan Perkebunan Disiapkan untuk Relokasi Korban Erupsi Gunung Semeru
Sebelumnya, Bupati Lumajang Thoriqul Haq akan menggunakan tanah milik perkebunan seluas enam hektare untuk relokasi korban erupsi Gunung Semeru. Pemakaian lahan perkebunan seluas enam hektare tersebut mempertimbangkan jumlah pengungsi lebih dari 2.000 kepala keluarga berikut fasilitas umum yang akan menjadi sarana pendukung.
"Tentu luasannya disesuaikan dengan kebutuhan. Kan 2.000 kepala keluarga lebih yang terdata masyarakat yang terdampak, kira-kira butuh sekitar 6 hektare. Karena yang dibutuhkan itu pemukiman yang representatif, kebutuhan lain, soal air minum, listrik, tempat ibadah itu harus dipikir dalam satu kesatuan untuk persiapan relokasi," kata Thoriqul Haq di Lapangan Desa Penanggal, Candipuro, Lumajang, Jumat (10/12).
Thoriqul menegaskan relokasi menjadi keputusan terbaik dengan didukung keinginan para warga korban erupsi. Sehingga relokasi memang menjadi opsi yang bakal ditempuh oleh Pemkab Lumajang.
"Lahan areanya sudah ada yaitu milik Perhutani. Tinggal sekarang berkeputusan tempat dimana yang paling strategis dari sekian area lahan perhutani di Kecamatan Candipuro ini," ungkapnya.
Beberapa desa yang bersebelahan dengan Perhutani, seperti Desa Penanggal, Sumberwuluh, Sumber Mujur sedang diinventarisir dan dalam waktu dekat diputuskan titik lokasinya.
"Sehingga kita bisa mulai melakukan penataan permukiman" ujar dia.
Pemkab telah mengusulkan beberapa titik yang menjadi lokasi relokasi, di antaranya lapangan Desa Penanggal, untuk menjadi alternatif tempat relokasi masyarakat yang terdampak erupsi Semeru.
"Beberapa daerah lain yang ada di Supit Urang, Sumbersari kita juga sedang mencari tempat yang pas paling representatif," tutup dia.
Reporter: Delvira Hutabarat
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya