Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kondisi Geologi Penyebab Tanah Longsor di Sumedang

Kondisi Geologi Penyebab Tanah Longsor di Sumedang Kondisi bencana longsor di Sumedang. ©Timur Matahari/AFP

Merdeka.com - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mengungkap penyebab tanah longsor yang terjadi di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Pemicunya yakni kondisi geologi.

Kepala Bidang Mitigasi Gerakan Tanah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Agus Budiarto menjelaskan hasil kajian yang dilakukan oleh timnya, kawasan Cimanggung merupakan zona kerentanan gerakan tanah pada kategori sedang hingga tinggi.

"Daerah terdampak merupakan wilayah yang mudah terinfiltrasi air, kemudian adanya indikasi tanah-tanah urukan di beberapa lokasi," ujar Agus dalam webinar virtual, Kamis(4/2).

Menurut Agus, lokasi tanah longsor di Cimanggung merupakan morfologi tapal kuda dan alur air. Pada lokasi itu drainase permukiman mengarah di kawasan longsor.

Tebalnya lapisan tanah lolos air serta kondisi lereng yang minim vegetasi berakar kuat membuat potensi risiko tanah longsor menjadi semakin tinggi. Sementara wilayah terdampak tanah longsor di Cimanggung termasuk dalam daerah aliran sungai (DAS) Citarum.

Pakar Geoteknik Universitas Gadjah Mada, Teuku Faizal Fathani menambahkan pada umumnya masalah utama tanah longsor terletak pada penataan air.

"Masalah utama yang dihadapi biasanya adalah penataan air, drainase harus dalam kondisi kedap," ujarnya.

Dia menyebut, penanganan tanah longsor dapat dilakukan dengan dua metode. Yaitu metode kontrol dan perkuatan. Metode bioengineering juga dapat digunakan untuk menangani masalah tanah longsor.

Metode bioengineering memanfaatkan vegetasi sebagai pengendali erosi. Vegetasi dengan rumput vetiver dikombinasikan dengan geonet, cocomesh dan bahan sejenis.

Selain itu, Fathani menekankan penanganan tanah longsor pada edukasi masyarakat dan kajian pemodelan longsor. Upaya tersebut harus dilakukan terus menerus agar masyarakat menjadi responder pertama saat kejadian bencana terjadi.

"Indonesia mampu melakukan kajian advanced dalam pemodelan longsor," imbuhnya.

Bencana longsor menimpa Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat pada Sabtu (9/1). Longsor terjadi dua kali, pertama pukul 16.00 WIB dan longsor susulan terjadi pada pukul 19.00 WIB.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat, Dani Ramdani mengatakan sebanyak 40 orang meninggal dunia akibat longsor tersebut. Sementara itu, 3 orang mengalami luka berat.

"Korban meninggal 40 orang, semua sudah ditemukan," katanya dalam laporan virtual melalui YouTube BNPB Indonesia, Rabu (3/2).

Adapun korban luka ringan tercatat sebanyak 22 orang. Jumlah orang yang terdampak longsor 1.126 jiwa atau 314 kepala keluarga (KK).

1.126 Jiwa terdampak ini mengungsi di tiga titik. Yakni, Lapangan Burung 513 jiwa atau 137 KK, SD Fatimah Az Zahra 148 jiwa atau 41 KK dan rumah warga Bojongkondang dan SDN Cipareuag 465 jiwa atau 136 KK.

Selain data korban, Dani juga menjelaskan kerugian material akibat longsor tersebut. Dia menyebut, 26 rumah mengalami rusak berat, 3 rusak sedang dan 103 rumah terancam akibat longsor.

"1 Unit masjid rusak sedang," sambungnya.

(mdk/eko)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP