Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kompleks Pemakaman Korban Corona di Samarinda Terancam Aktivitas Tambang

Kompleks Pemakaman Korban Corona di Samarinda Terancam Aktivitas Tambang Tempat pemakaman korban Corona di Samarinda. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Kegiatan penambangan batu bara di Samarinda, Kalimantan Timur, semakin menggila. Kompleks pemakaman khusus untuk korban Covid-19 dan pemakaman Tionghoa yang berada di Serayu, Kelurahan Tanah Merah, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda Kalimantan Selatan terancam oleh aktivitas mineral tersebut.

Lokasi pemakaman berada sekitar 12 km dari pusat kota. Dari gerbang Serayu di pinggir jalan poros Samarinda-Bontang, perjalanan dilanjut menuju ke makam yang berada di dataran yang lumayan tinggi, melalui jalan beton.

Begitu mendekati area makam Covid-19, di sisi kanan jalan beton terdapat jalan hauling (jalur angkut batu bara). Di satu titik, jalur hauling ini menyeberang jalan beton kemudian membelah pemakaman korban Covid-19 dan pemakaman warga Tionghoa.

Pemandangan dari sisi jalan, terhampar banyak galian berlapis batu bara. Ada satu truk dari kejauhan tidak beraktivitas.

"Iya itu tambang batu bara melintas jalan ke makam. Kadang hauling (angkut batu bara) siang, kadang malam," kata Waryo (46), pekerja di area pemakaman korban Covid-19 Raudhatul Jannah saat berbincang bersama merdeka.com, Selasa (9/3).

Waryo menerangkan, aktivitas tambang batu bara berlangsung sudah sebulan terakhir. Lalu lalang truk roda enam melintas di jalan beton sebagai akses jalan ke pemakaman, tidak jarang justru membahayakan iring-iring kendaraan tim pemakaman Satgas Covid-19.

tempat pemakaman korban corona di samarinda©2021 Merdeka.com

"Kalau siang panas berdebu. Kalau habis hujan, jadi becek berlumpur, dan jalan licin. Enggak tahu itu tambang punya siapa," ujar Waryo.

Pengamatan di lokasi, areal tambang yang disinyalir ilegal tersebut berada lebih dekat dengan pemakaman Tionghoa, kurang dari 1 kilometer. Namun demikian, ke depan, bukan tidak mungkin aktivitas alat berat mengarah ke pemakaman Covid-19.

"Iya, bisa berpotensi seperti itu (longsor) kalau tidak terpantau dari sekarang," ungkap Waryo.

Dalam perbincangan juga terungkap, bahkan iring-iringan alat berat ekskavator dan buldoser, tidak jarang melintas di jalan hauling melewati jalan beton itu. Dalam kondisi jalan licin, iring-iringan kendaraan tim makam Covid-19 Samarinda pun nyaris tergelincir, akibat tanah berceceran di jalan usai diguyur hujan.

"Iya itu aktivitas tambang batu bara. Hari-hari hauling. Kita juga tidak tahu itu, tiba-tiba ada aktivitas tambang, lalu lalang alat berat. Saya juga enggak tahu itu punya siapa," kata Ketua RT 20 Kelurahan Tanah Merah, Suladi di kesempatan yang sama.

Area makam Covid-19 bernama Taman Pemakaman Umum Raudhatul Jannah itu berdiri di atas lahan seluas 10 hektare, dan diresmikan oleh Wali Kota Syaharie Jaang pada 4 Maret 2020. Di sekelilingnya, memang dikepung aktivitas tambang batu bara. Bahkan juga bukaan lahan tambang berpotensi longsor menimpa perumahan juga di sekitarnya.

Masih penelusuran merdeka.com, deretan lokasi tambang batu bara lainnya ada juga di sekitar Bendung Benanga di Lempake. Kegiatan itu disayangkan, lantaran aliran lumpur akan masuk ke Bendung Benanga, dan mengakibatkan pendangkalan semakin parah.

Bahkan yang mencengangkan, seperti kasus yang terjadi pada Februari 2018, kegiatan tambang batu bara juga menggusur kuburan di Jalan Kebon Agung, Lempake, Samarinda. Sedikitnya 10 makam tergusur setelah buldoser menjebol pagar kuburan.

(mdk/cob)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP