Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

KLHK sebut banjir bandang bukti kerusakan lingkungan makin parah

KLHK sebut banjir bandang bukti kerusakan lingkungan makin parah Banjir bandang Garut. ©2016 merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut, banjir bandang di Kabupaten Garut, Jawa Barat merupakan representasi belum berhasilnya upaya pemulihan daerah aliran sungai (DAS).

Banjir bandang yang menewaskan 24 warga dan 17 orang hilang itu terjadi akibat meluapnya sungai Cimanuk setelah diguyur hujan lebat. Hal itu mengindikasikan kondisi DAS terutama di bagian hulu dalam kondisi rusak parah.

"Sebelum kejadian lokasi di sana diguyur hujan sangat deras dengan intensitas mencapai 225 milimeter per jam. Padahal, angka rata-rata curah hujan di wilayah itu hanya 100 milimeter per jam. Kejadian serupa juga pernah terjadi di Kalimantan," ujar Kepala Badan Litbang dan Inovasi KLHK, Henry Bastaman saat membuka Seminar Nasional Peran Pengelolaan DAS untuk Mendukung Ketahanan Air di Kota Solo, Kamis (22/9).

Henry mengatakan, hujan dengan intensitas sangat tinggi itu merupakan dampak dari cuaca ekstrem yang saat ini siklusnya semakin singkat. Dulu, lanjut dia, siklus badai El Nino dan La Nina masih 20 tahunan lalu pada 1997 menjadi 10 tahunan, dan sekarang ini menjadi 5 tahunan.

"Ini mengindikasikan bahwa kerusakan lingkungan dari waktu ke waktu semakin parah. Perilaku manusia yang kurang bertanggung jawab membuat dampak yang ditimbulkannya semakin parah," tandasnya.

Henry menambahkan, kurangnya kesadaran untuk memelihara DAS membuat daya dukung dan daya tampungnya semakin berkurang.

Pola pemanfaatan lahan, kata Henri, seringkali menyebabkan kawasan tutupan hutan di daerah hulu terus berkurang. Daerah atas yang semestinya menjadi hutan lindung justru ditanami sayuran atau tanaman semusim. Akibatnya, kemampuan untuk menyerap air semakin rendah.

Dalam kesempatan sama, Sekretaris Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Hutan Lindung, Murdiyono menyatakan, selain Cimanuk kondisi serupa juga terjadi pada 15 belas DAS lainnya.

"Ada 15 DAS Di Indonesia menjadi prioritas untuk dibenahi. Di antaranya DAS Cimanuk, Bengawan Solo, Citandui, serta Batanghari. Sebagian besar DAS berada di Pulau Jawa," jelasnya.

Kerusakan DAS, menurut dia, di antaranya disebabkan sistem pengelolaan yang buruk serta terjadi pengalihan pemanfaatan lahan di daerah tangkapan air. Hal ini juga yang terjadi di DAS Cimanuk yang menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir dan longsor di Garut, Jawa Barat.

Meskipun pihaknya telah memiliki peta rawan bencana dan memiliki early warning system, tetapi ada hal yang ekstrem yang menyebabkan terjadinya banjir dan longsor di Garut. Kondisi ekstrem tersebut tidak bisa diprediksi oleh sistem yang normal.

"Bencana banjir bandang di Garut itu merupakan momentum untuk melakukan introspeksi diri. Pemerintah dengan dukungan masyarakat harus memulihkan fungsi DAS," pungkasnya.

(mdk/tyo)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP