Kisah Yeti, TKI di Arab Saudi terjerat utang Rp 170 juta
Merdeka.com - Minimnya lapangan kerja di dalam negeri membuat masyarakat Indonesia nekad mengais rejeki di negeri orang. Mereka memilih mengadu nasib jauh dari keluarga guna memperbaiki kehidupan ekonominya.
Tak cuma-cuma, mereka yang akan mencari pekerjaan di luar negeri menjadi TKI harus mengeluarkan sejumlah uang. Akibatnya, para calon TKI tersebut harus berhutang dulu untuk membiayai keberangkatannya yang tak sedikit.
Bagi mereka yang bernasib mujur akan mendapatkan gaji dan mampu membayar semua hutangnya. Namun, tak sedikit yang bernasib nahas jatuh sakit atau mendapat siksaan majikan bahkan tak di gaji sehingga tak mampu membayar utang. Hal itu seperti menimpa Yeti, TKI asal Lebak Banten yang jatuh sakit dan menanggung hutang mencapai ratusan juta.
Berikut kisah pilu Yeti, TKI di Arab Saudi yang jatuh sakit dan terjerat rentenir sampai ratusan juta, seperti dihimpun merdeka.com, Sabtu (27/12):
Keluarga Yeti terliba utang ratusan juta
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comDede Yeti (58), TKW asal Kabupaten Lebak terjatuh dari tangga lantai dua rumah majikannya di Arab Saudi saat bekerja. Karena terjatuh dari ketinggian, Dede Yeti mengalami pendarahan di kepala dan mengalami koma selama enam bulan. Sementara itu, suami korban Maman Supartman, mengaku tak memiliki biaya memulangkan sang istri ke Tanah Air.Tak hanya itu, Maman memiliki kegelisahan lain. Rupanya keluarga kecil tersebut tengah terlibat hutang pada rentenir. Tak tanggung-tanggung utangnya sebesar Rp 170 juta.Maman menuturkan, total utang sebesar itu didapatnya setelah meminjam uang sebesar Rp 50 juta. Uang itu dipinjamnya dari seorang rentenir untuk keberangkatan Yati ke Arab Saudi serta biaya kebutuhan sehari-hari, termasuk uang sekolah keempat anaknya. Dia bingung cara mengembalikan utang tersebut. Terlebih setelah istrinya sakit."Kami awalnya pinjam uang sebesar Rp 50 juta, namun kini harus mengembalikan Rp 170 juta," ujar Maman.
Pemkab Lebak tak punya dana pulangkan Yeti
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comDisnakersos Kabupaten lebak mengaku tak punya anggaran guna memulangkan Yeti ke Indonesia. Mereka berencana akan berkoordinasi dengan Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI)."Untuk Disnaker yang pasti kita tidak ada anggaran seperti itu, kami terbatas kepada memfasilitasi untuk pengurusannya," kata Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan, Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Disnakersos Lebak, Suprapto, Jumat (26/12).Suprapto mengaku pihaknya telah membawa suami dari Dede Yeti untuk menghadap Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) di Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) agar bisa menemukan solusi bagaimana memulangkan sang istri. Tetapi, Maman Supratman, sang suami menolak untuk ke Jakarta.
Pemprov Banten janji pulangkan Yeti
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comTenaga Kerja Indonesia (TKI), Dede Yeti bin Sulaeman Marhali (56), asal kampung Pasir Pulo RT 01/RW 06, Kelurahan Cijoro Lebak, Rangkasbitung yang mengalami pendarahan dan koma selama enam bulan di Arab Saudi. Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Banten Rano Karno merasa prihatin dan pihaknya akan membantu pemulangan TKI asal Rangkasbitung tersebut."TKI tersebut jalan kesana dengan jalan yang legal, gaji pun akan di urus, kepulangannya pun akan di urus, saya akan koordinasi terus dengan BP3TKI (Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia). Provinsi dan Disnaker (Dinas Tenaga Kerja)," kata Rano Karno, Selasa (23/12).Rano juga akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk masalah pembiayaan pemulangan, sehingga tidak memberatkan keluarga Dede Yeti, "Sekarang sedang diproses kepulangan oleh BNP2TKI dengan PT. Bantal Perkasa Sejahtera tersebut terkait biaya kepulangan," ujarnya.
(mdk/mtf)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya