Kisah sukses pria bertato asal Yogya jadi pengusaha semir sepatu
Merdeka.com - Salah satu hal yang mendorong Faris Juniarso (28) untuk berbisnis yaitu karena kesadarannya sebagai orang bertato memiliki stigma buruk di masyarakat. Dari pengalamannya, dia susah mendapat kerja karena tato yang menghiasi lengan tangan kanan dan kirinya.
"Orang bertato itu bakal susah dapat kerja. Karena itu saya milih bikin kerjaan sendiri, usaha sendiri supaya bisa bertahan hidup," katanya di Ambarukmo Plaza, Yogyakarta, Sabtu (7/2).
Sejak pertama mendirikan usaha pembersih sepatunya itu, dia merekrut anak-anak muda bertato untuk menjadi pegawainya. Dia ingin menunjukkan kepada masyarakat dan juga orangtuanya bahwa orang bertato itu bisa berkarya dan bekerja.
"Waktu cari pegawai, saya cari yang bertato. Orangtua menentang ketika saya bertato, padahal orangtua kerja di departemen agama, ancur pokoknya," tutur Faris lalu tertawa mengingat masa-masa itu.
Dia pun mengaku sejak duduk di bangku SMA kelas 3, dia sudah memiliki tato. Setelah kuliah dia kemudian menambah beberapa tato lagi.
"Waktu itu lulusan SMA, sembunyi-sembunyi juga. Ketika kuliah saya ikut teater, terus kenal dengan seniman-seniman yang bertato, akhirnya ikut-ikutan," tambahnya.
Demi bertahan hidup, dia pun bekerja serabutan. Mulai dari jadi tukang sampah, tukang cuci piring dan menjadi bartender pernah dia jalani untuk mendapatkan sesuap nasi. Dia pun sempat mendirikan usaha kue lekker di Semarang.
"Modalnya jualin barang-barang yang masih nempel, nggak ada bantuan dari orang tua," ungkapnya.
Kini dia sudah memiliki delapan pekerja untuk menjalankan usahanya. Pasar luar negeri pun sudah dijajahnya. Mulai dari Singapura, Malaysia hingga Australia.
"Pertengahan tahun ini kita akan buka kantor distributor di Australia," katanya.
Dia pun memberi nama toko semir sepatunya itu Andrrows. Andrrows merupakan nama sahabat Faris dalam merintis usaha pembersih sepatu yang meninggal dunia sebelum sempat mencicipi kesuksesan bersama.
Faris bercerita, Andrrows merupakan teman bermainnya saat dia masih kuliah. Dia dan Andrrows bersama-sama membuat racikan pembersih sepatu yang kini sudah dikenal sampai luar negeri.
"Saya pakai nama Andrrows supaya nama dia tetap ada dalam usaha ini. Dia belum sempat menikmati hasil kerjanya, karena itu saya ingin mempersembahkan produk ini untuk dia," katanya di Ambarukmo Plaza, Yogyakarta, Sabtu (7/2).
Dia dan Andrrows sama-sama pencinta sepatu. Mereka berdua kerap pergi bersama menghabiskan waktu luang untuk hunting sepatu-sepatu. Ide pembersih sepatu itu juga datang dari obrolan bersama Andrrows.
"Idenya juga bareng kita pikir, sampai awal kita gagal coba bikin itu," ujarnya.
Awal mulanya mereka berpikir membuat produk khusus untuk para kolektor sepatu, khususnya sepatu sneakers. Namun mereka ingin mengembangkan produk supaya bisa digunakan untuk semua jenis sepatu.
"Sekarang semua jenis sepatu bisa, mau yang dari kulit, kain, atau yang jenis pantofel bisa, termasuk sepatu cewek yang aneh-aneh bahannya," terangnya.
Saat ini bisnis yang digeluti Faris sudah berkembang pesat. Dia merencanakan membuat kantor distributor di Australia untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
"Produksi tetap di sini, tapi nanti distribusi ke negara-negara lain lewat Australia> Selain itu pasar di Australia juga besar, anak-anak muda konsumtif banget kalau dengan sepatu," tandasnya. (mdk/bal)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya