Kisah Suding serahkan badik miliknya pada Adnan Buyung untuk damai
Merdeka.com - Kepergian praktisi hukum senior, Adnan Buyung Nasution, juga membawa duka buat anggota Parlemen. Seperti yang dirasakan Ketua Fraksi Hanura di MPR, Sarifuddin Suding.
"Saya kehilangan Bang Buyung, saya dekat dengan dia saat di YLBHI Makassar. Dia banyak memberikan gagasan dalam hal bantuan hukum struktural yang dicanangkan beliau saat di YLBHI," kata Sudding ditemui di Kompleks Senayan, Rabu (23/9).
Tak sekadar kenal dan menganggap guru, Sudding rupanya punya kenangan mendalam pada sosok pria yang akrab disapa Bang Buyung itu. Saat itu, kata dia, sekitar antara tahun 1994-1995 di mana LBH Makassar sedang dilanda konflik.
"Saat itu Bang Buyung datang untuk menyelesaikan konflik tersebut karena beberapa pengurus YLBHI Mulyana W Kusuma, Hendardi datang menyelesaikan tapi tidak berhasil," ungkap dia.
Saat itu, kata dia, beberapa rekannya juga sempat melaporkan pada Buyung bahwa dirinya suka membawa badik. Hal tersebut kemudian membuat beberapa rekannya tak nyaman.
"Nah dalam proses mediasi di LBH Makassar saat itu beberapa kawan melaporkan ke Bang Buyung kalau saya sering bawa badik ke kantor, dan membuat kawan-kawan LBH Makassar kurang nyaman. Di saat itulah Bang Buyung meminta badik saya yang memang sering saya bawa dan disimpan di laci kantor dan saya berikan pada beliau. Setelah ada Bang Buyung dan memberikan badiknya, masalah internal di sana lebih selesai dengan cepat," ucapnya terkenang.
"Itu salah satu kenangan dengan Bang Buyung di samping kenangan lain dalam mensupport dalam penanganan kasus yang berdimensi struktural," ucap mantan anggota Komisi III DPR ini lirih.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya