Kisah perahu Cikao Bandung, alat transportasi Purwakarta-Batavia
Merdeka.com - Perahu, mungkin tak asing lagi bagi masyarakat di Indonesia. alat transportasi air yang terbuat dari pilahan kayu itu merupakan penunjang untuk mobilitas warga. Apalagi, mereka yang bermukim di daerah perairan.
Pada ratusan atau puluhan tahun lalu, Sebelum banyak kendaraan bermotor, perahu merupakan satu-satunya alat transportasi yang diandalkan. Seperti masyarakat yang berada di sepanjang aliran sungai Citarum. Di samping murah, alat transportasi ini juga bisa membawa banyak penumpang dalam sekali perjalanan.
Pada masa kejayaannya, salah satu alat transportasi ini juga pernah mengharumkan nama salah satu daerah di Purwakarta. Yaitu Desa Cikao Bandung, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta. Bahkan, desa yang lokasinya tepat di sekitar Bendungan Ir H Djuanda Jatiluhur bisa dibilang merupakan sentra kerajinan perahu.
Namun, seiring berjalannya waktu, masa kejayaan perahu Cikao Bandung, kini hanya sebagai kisah masa lalu. Semuanya sirna. Satu persatu, para perajin yang ada di desa itu memilih mencari penghidupan lain, hanya beberapa saja yang bertahan.
Salah satu perajin perahu yang masih bertahan, yaitu Abah Aca (70). Yang telah menggeluti pekerjaannya sebagai perajin perahu sejak 45 tahun silam. Aca menuturkan dahulu nama desa tempat tinggalnya itu lebih terkenal, dari pada nama Kabupaten Purwakarta. karena adanya sentra perajin perahu yang saat itu menjadi alat transportasi yang digemari.
"Dulu Cikao Bandung merupakan pelabuhan. Sehingga saat itu, Cikao Bandung menjadi wilayah paling ramai disinggahi para pedagang dan saudagar dari luar daerah, hingga luar negeri," kata Aca. Minggu (13/3) kepada merdeka.com.

Perahu Cikao Bandung ©2016 merdeka.com/bram salam
Aca juga menceritakan karena desanya merupakan pelabuhan, sehingga masyarakat Cikao Bandung, tertarik dengan membuat perahu.
"Waktu itu Sungai Cikao menjadi satu-satunya akses penghubung antara Purwakarta ke Batavia dan daerah lain. saat itu di desa ini banyak perajin perahu. Karena i merupakan satu-satunya alat transportasi massal," ujarnya.
Lebih lanjut menurut pria yang kini telah memiliki 15 orang cucu dan cicit itu, Selain digunakan sendiri, perahu tersebut juga dijual kepada pihak luar. hingga Cikao Bandung juga terkenal dengan sebutan Kampung Perahu.
"Ya seiring perjalanan waktu sebutan kampung perahu akhirnya sirna seiring dibangunnya Bendung Walahar dan Bendung Curug di Karawang pada 1918. Sehingga, arus air dari Sungai Citarum menuju hilir menjadi tertutup. Dengan kondisi ini, perahu tak bisa lagi menyusuri Sungai Citarum yang tembus ke Sungai Cikao," tambah Aca.
Dampaknya Sungai Cikao mulai sepi dari arus lalu lintas perahu, dan yang bertahan adalah perahu yang mengangkut pasir ataupun bambu. yang notabene masyarakat lokal yang ada di sekitar bantaran sungai.
"Apalagi sekarang, peminatnya semakin tidak ada karena sudah serba kendaraan," ungkap Aca.
Masa kejayaan perahu meredup dan berakhir pada tahun 1980an, setelah Kondisi tersebut diperparah oleh sungai yang mengalami pendangkalan. Sehingga jarang sekali masyarakat yang menggunakan perahu.
Puncaknya pada awal tahun 1990 usaha perahu bahkan mengalami kemunduran parah. Hal itu menyebabkan kerajinan perahu tak lagi diminati oleh generasi penerus karena prospeknya yang tidak menjanjikan lagi.
"Sekarang menjadi pengrajin perahu sudah tidak bisa diandalkan lagi, sebagai mata pencaharian masyarakat di Cikao Bandung ini," tuturnya.
Kini semuanya hanya tinggal kenangan. Cerita dia untuk anak dan cucu serta cicitnya. Kalau pun ada dikatakan Aca, dalam satu tahun tidak lebih dari empat perahu yang ia buat. Itu pun perahu dengan ukuran kecil.
"Apalagi sekarang sidah banyak sesama perajin seperti saya yang sudah meninggal," imbuhnya.
Aca kini yang berusia senja, hanya bisa berharap jika kerajinan yang diwariskan para leluhurnya tidak berakhir dengan kata punah. Namun dia menyayangkan karena dari keturunannya tak satupun yang mengikuti jejaknya.
"Anak saya sebelas orang, tapi mereka memilih pekerjaan lain. Tidak tahu siapa yang akan meneruskan keahlian membuat perahu seperti saya ini," pungkas Aca. (mdk/bal)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya