Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kisah para penjemput dan pengantar jenazah korban gempa Palu

Kisah para penjemput dan pengantar jenazah korban gempa Palu relawan pengantar jenazah korban gempa sulteng. ©2018 Merdeka.com/Angga Yudha Pratomo

Merdeka.com - Dari kejauhan suara sirine ambulans terdengar. Memasuki kawasan Tempat Pemakaman Umum Poboya, Palu. Berjalan menanjak dan berbelok. Menuju di bukit paling tinggi.

Suara itu menjadi kode bagi para tentara dan relawan agar bersiap. Berlari menuju liang lahat. Ukuran lubang kubur begitu besar. Tiap satu lubang berukuran 7 x 5 meter. Kedalamannya sekitar 3 meter.

Sebagian sudah tertutup. Sudah dikeruk dan diratakan mesin eskavator. Hanya ada tanda memakai papan putih, bertuliskan 'Pemakaman Masal Korban Gempa'.

Ambulans tiba. Memarkirkan dekat lubang kubur. Enam orang turun dari mobil. Mengangkat kantong jenazah berwarna kuning.

Di dalam kantong itu berisi mayat. Diambil dari daerah Talise. Jenazah di dalam kantong merupakan wanita dan anak kecil. Diduga ibu dan anak. Kondisinya tragis.

evakuasi jenazah oleh basarnas di donggala

Jenazah digotong menuju liang lahat. Diletakkan pelan - pelan. Kepala menghadap arah barat. Kemudian enam orang itu membaca doa.

"Kami ambil dari Talise. Diduga ibu dan anak dalam keadaan berpelukan," ujar Lukman, salah seorang relawan pembawa kantong jenazah itu kepada merdeka.com, Selasa (9/10).

Itu merupakan kantong mayat pertama hari itu. Sekitar jam 12.15 WIT, mereka tiba. Memasuki hari ke-11 pencarian korban, jumlah ditemukan semakin sedikit. Tidak seperti hari biasanya.

Setelah satu jam berlalu, dua kantong mayat tiba. Semua dibawa anggota kepolisian. Berasal dari wilayah perumahan dekat Pelabuhan Pantoloan.

Selama bertugas sebagai pengantar jenazah di Palu, Lukman mengaku tugasnya tidak mudah. Tapi semangat tetap membara. Dia pernah membawa 70 kantong mayat dalam sehari. Itu diambil dari pelbagai tempat.

Rekannya, Ican punya cerita hampir sama. Pernah membawa 11 kantong jenazah dari satu tempat. Ketika itu hari mulai gelap. Saat itu pencarian memasuki hari ketiga.

Panggilan radio meminta menjemput tiga paket kantong mayat di daerah Balaroa. Sesuai perintah, dia menuju lokasi bersama tim.

pemakaman massal korban gempa dan tsunami di palu

Panggilan mendadak membuat Ican dan tim bergerak. Sampai lokasi, ternyata mereka salah koordinasi lokasi. Meskipun ternyata masih di satu wilayah.

Walau salah, lokasi yang didatangi Ican dan timnya ternyata sudah ada kantong mayat menunggu. Jumlahnya bukan tiga. Melainkan 11 kantong. Sedangkan ambulans yang dipakai hanya jenis minibus.

Karena sudah mendesak, seluruh kantong jenazah dimasukkan ke dalam ambulans. Bertumpuk. Saking penuhnya, pintu samping mobil itu tidak ditutup. Hanya pintu belakang saja. Sebagian tim pengantar jenazah terpaksa bergelayut menuju TPU Poboya.

"Itu sudah paling penuh selama antar kantong jenazah di Palu," kata Ican.

Jenazah korban gempa dan tsunami dikubur tiga lapis. Di dalam liang kubur sedalam 3 meter itu. Bila semua jenazah paling bawah sudah penuh, operator eskavator segera menutupnya dengan tanah. Itu dilakukan hingga lapis terakhir.

pemakaman massal korban gempa dan tsunami di palu

Muhiddin, sang operator eskavator, menyebut sudah ada 900 kantong mayat dikubur dalam pemakaman massal itu. Namun, biasanya tiap kantong bisa berisi dua mayat lantaran kondisinya mengenaskan. Data itu diketahui dari petugas pencatat di lokasi.

Setiap hari dia sudah bersiap sejak pukul 10 pagi. Memanaskan mesin eskavator. Lalu mengeruk lubang baru. "Begini saja penguburannya," ungkap dia kepada kami.

Korban meninggal terus bertambah

Masa tanggap darurat dalam menangani gempa bumi dan tsunami di Palu, Donggala dan Sigi, ditetapkan selama dua pekan. Tim gabungan telah dibentuk. Dari TNI, Basarnas, BNPN dan banyak relawan lainnya telah terjun ke lokasi bencana.

Tiap hari ada saja korban meninggal ditemukan. Kondisinya bermacam-macam. Tragis. Begitu kiranya gambaran mengenai kondisi para korban meninggal.

Penemuan korban tewas jumlahnya bisa mencapai ratusan tiap harinya. Di antara mereka ada yang diketahui identitasnya. Sedangkan bagi korban sulit dikenal, mereka segera dibawa ke pemakaman massal.

Jumlah korban meninggal hingga H+12 tercatat mencapai 2.045 orang. Itu disampaikan Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho.

pemakaman massal korban gempa dan tsunami di palu

"2.045 korban meninggal dunia. Perinciannya 171 di Donggala, 1.636 di Palu, 222 di Sigi, 15 di Moutoung dan 1 orang di Pasang Kayu," kata Sutopo.

Sutopo menjelaskan, kebanyakan korban meninggal akibat tertimpa reruntuhan bangunan saat gempa dan tsunami. Sebanyak 2.045 jenazah itu telah dimakamkan secara massal.

"Pemakaman massal sebanyak 969 orang, pemakaman keluarga 1.076 orang," jelasnya.

Sampai saat ini, Tim SAR gabungan masih terus bekerja dan melakukan pencarian terhadap para korban meninggal dunia. Pihaknya berharap agar pencarian terhadap para korban bencana gempa dan tsunami bisa dapat segera ditemukan.

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP