Kisah off roader tangguh jalur Manokwari-Bintuni

Reporter : Iqbal Fadil | Selasa, 9 Juli 2013 06:33




Kisah off roader tangguh jalur Manokwari-Bintuni
Jalur Bintuni. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Papua dikenal dengan kondisi alamnya yang menantang. Salah satunya, infrastruktur jalan yang kurang memadai. Ini kisah para sopir jalur Manokwari-Bintuni dengan mobil double cabin mereka.

Bagi warga Kabupaten Manokwari, Papua Barat, pilihan transportasi yang tersedia untuk menuju Kabupaten Teluk Bintuni melalui jalan darat adalah mobil jenis double cabin. Jarak antara dua kabupaten ini membentang sejauh 290 kilometer.

Di Manokwari, ada ratusan mobil jenis ini yang siap mengantar warga. Ongkosnya cukup mahal, Rp 500.000 per orang untuk yang duduk di dalam mobil. Bagi yang ingin berhemat mereka terpaksa duduk di bak belakang bersama barang-barang. Ongkosnya, Rp 300.000. Namun, risiko hujan dan kepanasan dan cipratan lumpur menjadi 'bonus' selama perjalanan.

Uniknya, di Manokwari bos-bos pemilik mobil merupakan pendatang yang sebagian besar adalah suku Bugis. Mereka mendatangkan mobil double cabin dari luar Papua dengan kapal laut. Jadi jangan heran jika melihat mobil pelat B (Jakarta), pelat L (Surabaya), dan pelat DD (Makassar) berseliweran. Sebab, untuk membeli dari dealer di Manokwari atau di Jayapura, inden mencapai 6 bulan.



Dengan kondisi normal, cuaca tidak hujan dan jalan kering, waktu tempuh Manokwari-Bintuni mencapai minimal 8 jam. Jika kondisi sedang ekstrem, jalur akan berubah menjadi kubangan lumpur di beberapa titik dan sungai meluap. Waktu tempuh bisa mencapai 10-12 jam, bahkan ada yang terpaksa menginap di tengah hutan menunggu air surut.

Ernest (40), salah satu warga asli Papua yang menjadi sopir jalur Manokwari-Bintuni, mengaku sejak tahun 1998 sudah melahap jalur tersebut.

"Dulu mobilnya Toyota Hardtop, sebelum jalan diaspal, jalur ditempuh selama satu Minggu. Kalau kita mau jalan, bawa perbekalan beras, lauk pauk, kopi, gula dan lain-lain untuk di jalan. Di mana mobil terjebak lumpur, di situ kita istirahat bikin api, memasak," kata Ernest yang asli suku Wasior di Kabupaten Teluk Wondama.

Saat merdeka.com dan rombongan pegawai Ditjen Pajak menuju kantor Kantor Pelayan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) Bintuni pekan lalu, Ernest cukup cekatan di balik kemudi Toyota Hilux double cabin milik bosnya.

Aksinya bak off roader. Jalur curam dan terjal penuh lumpur diterabas dengan mantap. Bapak empat anak itu mengaku sudah hapal dengan jalur yang dilalui. Kecepatan mobil pun dipacu cukup tinggi, yang kadang membuat penumpang yang baru pertama kali menikmati jalur ini dag dig dug sepanjang perjalanan.

Mobil yang dipakai untuk menempuh jalur ke Bintuni pun sudah dimodifikasi. Rata-rata ban yang dipakai jenis ban pacul alias ban off road dengan ukuran diameter 31 inci hingga 33 inci. Selain itu modifikasi dilakukan pada bagian kaki-kaki terutama anting per dan shockbreaker yang dibuat lebih tinggi.

"Kalau pake ban standar, sudah pasti tidak bisa tembus, terjebak di lumpur," ujar Ernest.

Keganasan jalur ke Bintuni sering mengakibatkan mobil-mobil itu rusak. Seperti yang dialami merdeka.com. Salah satu dari tiga rombongan mobil mengalami patah di bagian as roda depan. Mobil pun terpaksa ditinggal di tengah hutan untuk menunggu onderdil dan mekanik dari Mankowari.

Selama 15 tahun menjadi 'off roader', Ernest mengaku enjoy menjalani profesinya. Setiap pekan, minimal dua kali dia mengantar penumpang dari Manokwari-Bintuni. Setiap kali jalan, dia menghabiskan 100 liter solar, termasuk cadangan 30 liter dalam jeriken di bak belakang.

Jumlah penumpang yang dibawa minimal 4 orang. Uang sebesar Rp 2 juta disetor semua kepada bosnya. Dia mendapatkan persentase 20 persen dari total setoran itu.

"Kalau sebulan setoran Rp 20 juta, saya dapat gaji Rp 4 juta. Kalau setoran lebih besar, dapat lebih besar juga," tuturnya.

Meski begitu, Ernest juga mengaku mendapat tambahan dari penumpang yang naik dan turun selama perjalanan. "Minimal saya dapat Rp 600.000 untuk beberapa penumpang yang naik turun," imbuhnya.

Duka menjadi sopir jalur Manokwari-Bintuni menurut Ernest, ketika mobil terjebak lumpur atau mengalami kerusakan. Sukanya adalah, saat melintas di jalur yang berada di tengah hutan, kadang ada rusa yang melintas.

"Kalau ada rusa di tengah jalan, saya tabrak terus saya bawa ke Manokwari. Dagingnya enak," ujarnya.

Menikmati jalur Manokwari-Bintuni memang melelahkan. Meski begitu, pemandangan alam bumi Papua menawarkan eksotisme yang luar biasa. Salah satu spotnya adalah kawasan Gunung Botak. Sebuah gunung batu besar dengan landscape yang menawan. Dari kawasan ini kita bisa melihat sebuah teluk dengan airnya yang biru. Setengah perjalanan awal dari Manokwari, jalur yang dilalui berada di pesisir pantai.

Sisanya merupakan kawasan transmigrasi yang dihuni pendatang asal Jawa, perkebunan cokelat, dan kawasan hutan. Di sepanjang perjalanan juga ditemui camp-camp pekerja perusahaan kayu dan depot kayu. Produk kayu unggulannya adalah kayu besi atau kayu hitam yang harganya mencapai hingga Rp 5 juta per meter kubik.

Tertarik mencoba perjalanan off road dengan keindahan alam yang luar biasa? Silakan datang ke Manokwari dan lanjutkan perjalanan Anda ke Bintuni.

[bal]

KUMPULAN BERITA
# Papua

JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya







Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top

Today #mTAG iREPORTER

LATEST UPDATE
  • Fadel, Agun, Airlangga & Ade bertarung di bursa calon ketua DPR
  • Bangun akses pariwisata, warga Samosir inisiatif bongkar rumah
  • Terminal domestik Bandara Ngurah Rai bisa tampung 9,4 juta orang
  • Perangkat USB tidak terdeteksi? Atasi dengan cara ampuh ini
  • Gunakan preman duduki kantor PPP, kubu SDA dilaporkan ke Polda
  • Jaringan paedofil internasional serbu Indonesia
  • Veteran tukang timbang keliling, capek cari perhatian pemerintah
  • Matt Damon akan kembali dalam 'BOURNE' terbaru?
  • Kubu SDA tantang kubu Emron tarung di Muktamar
  • Lagi, Dinsos DKI razia pengemis tajir kantongi Rp 11 juta
  • SHOW MORE