Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kisah JK di Aceh usai tsunami, rombongan tertahan tumpukan mayat

Kisah JK di Aceh usai tsunami, rombongan tertahan tumpukan mayat Jusuf Kalla berkunjung ke merdeka.com. ©2013 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Sehari setelah tsunami, usai salat Subuh, Wakil Presiden Jusuf Kalla terbang ke Aceh membawa obat-obatan dan uang tunai sebesar Rp 6 miliar dalam peti untuk para korban. JK datang bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas saat itu, Sri Mulyani, Menteri Tenaga Kerja, Fahmi Idris dan dua menteri yang dijemput di Palembang yakni Menteri Dalam Negeri, Mohammad Ma'ruf dan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari. Sejumlah duta besar juga bergabung dalam rombongan tersebut.

Setelah mendarat di bandara, rombongan langsung berangkat menuju lokasi. Menjelang pusat kota, tepatnya di Lambaro, iring-iringan rombongan Wapres berhenti. JK menyaksikan ribuan mayat bergelimpangan. Aroma bau busuk dan menyengat menusuk hidung sang wapres.

Pandangan mata JK tertuju pada seorang ibu yang tengah merintih di lantai menangis pilu. Sambil menarik-narik lengan JK, sosok wanita paruh baya tersebut meminta pertolongan JK.

"Tolong kami, Pak, tolong kami," ucapnya kepada JK seperti seperti tertuang dalam buku Ombak Perdamaian, Inisiatif dan Peran JK Mendamaikan Aceh, dikutip merdeka.com, Jumat (26/12).

Dengan suara parau, JK menjawab "Iya Bu, Insya Allah kami tolong. Sabar ya, Bu," ucap JK yang beberapa kali tampak mengusap matanya yang memerah. Doa tak lepas dari mulut JK.

JK meminta stafnya untuk segera memborong beras, mi instan dan aneka makanan dari tempat terdekat. Saat mendapati persediaan beras hanya sedikit, lantaran gudang Dolog digembok, JK kembali memerintahkan gembok gudang ditembak.

"Buka! Kalau tak bisa, tembak gerendelnya. Apa perlu tanda tangan Wapres untuk buka gudang?" tegas JK.

Kapolda Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) kala itu, Inspektur Jenderal (Irjen) Pol Bahrumsyah mengingatkan JK bahwa kebijakannya tersebut perlu legalitas tertulis saat wapres itu kembali meminta agar beras segera dibagikan untuk meringankan kehidupan para korban yang selamat. JK menuruti saran tersebut dengan meminta secarik kertas dan menulis perintah 'Buka semua gudang, ambil semua beras, dan bagikan gratis'. Tak lupa JK membubuhkan tanda tangannya di atas secarik kertas berisi perintahnya tersebut.

JK kembali melakukan hal tersebut saat mengeluarkan perintah pemakaman mayat para korban bencana Tsunami Aceh. Seorang ustaz diminta mendoakan tumpukan jenazah tersebut yang jumlahnya ribuan.

Tak terlihat makan hari itu, JK langsung terbang sore harinya ke kawasan Lhoknga bersama helikopter yang akan menjatuhkan mi instan. Presiden SBY sudah menetapkan gempa yang disusul oleh tsunami di Aceh sebagai bencana nasional.

Presiden SBY tiba di Lhokseumawe petang hari bersama sejumlah menteri. SBY dan rombongan bermalam di kota serambi Mekkah tersebut, sementara JK terbang ke Medan.

Di Medan, JK melakukan konferensi pers. "Seluruh kawasan Banda Aceh yang berada di pinggir pantau habis sudah. Perhitungan kasar, korban tewas di sana 5.000-10.000 jiwa dan rumah-rumah habis. Ini bencana luar biasa dahsyat," tutur JK.

Di Medan, JK mendapati sejumlah wartawan asing mengeluh lantaran tidak dapat masuk ke Aceh dan mendapatkan berita. Segera JK memanggil Pangdam Bukit Barisan Mayjen Tri Tamtomo untuk meminta penjelasan. JK mendapati bahwa ada prosedur tertentu bagi wartawan asing yang hendak melakukan aktivitas liputan di wilayah-wilayah Indonesia.

JK menegaskan bahwa situasi saat itu adalah darurat. Oleh sebab itu, JK kembali mengeluarkan perintah melalui secarik kertas yang dibubuhi tanda tangannya. 'Mulai hari ini, wartawan asing boleh masuk Aceh tanpa visa'.

JK menyerahkan kertas tersebut untuk dipegang oleh Tri Tamtomo. "Panglima, pegang ini!," tutur JK. (mdk/eko)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP