Kisah Jamhuri memindahkan hujan
Merdeka.com - Meski zaman sudah modern, jasa pawang hujan hingga kini masih dipercaya sebagian kalangan masyarakat kita. Benarkah pawang hujan mampu meniadakan hujan?
Keyakinan, menjadi kunci utama bagi seorang pawang hujan sebelum melakukan ritual. Tapi, pekerjaan ini dilakukan bukan untuk menghalangi turunnya hujan, melainkan memindahkan tetesan air ke lokasi lain.
Pekerjaan ini juga yang dilakoni Haji Jamhuri (48) selama 18 tahun sejak merantau ke ibu kota Jakarta dari kampung halamannya, Indramayu. Ilmu yang dia miliki itu didapatnya dari seorang guru di sebuah pesantren, tempatnya menimba ilmu.
Ilmu yang diajalani ini membutuhkan bantuan dari seorang guru, tanpa bantuan seorang guru, orang awam dipastikan tidak mampu melakukan ritual tersebut. Kalaupun dipaksakan, dia memastikan orang biasanya berakhir menjadi gila.
"Tanpa guru, kalau nggak kuat bisa sampai gila," ucap Jamhuri saat berbincang dengan merdeka.com di GOR Bulungan, Jakarta, Jumat (25/5).
Ritual yang dijalaninya itu tidak menggunakan kesan mistis yang melibatkan makhluk-makhluk dari dunia lain. Melainkan, hanya melafalkan satu surat Al-Quran dan meniupkannya ke arah awan hitam.
Dalam melafalkan surat tersebut, pawang hujan harus membaca sebanyak 21 kali dan 3 kali menahan nafas. Setelah selesai, pawang meniupkan udara ke arah awan yang diduga akan turun hujan dengan menyebut empat nama malaikat yang berkaitan dengan turunnya hujan.
Namun masyarakat kerap menafsirkan salah mengenai pawang hujan. pawang di mata masyarakat mampu menolak datang hujan padahal sesungguhnya yang dilakukan pawang hanya memindahkan hujan. Hujan sendiri adalah sebuah berkah untuk semua makhluk hidup.
"Kita tidak boleh menahan hujan turun, hanya dipindahkan. Itu enggak boleh, karena bisa dilaknat sama Allah SWT," ujarnya.
Dia mengakui, tidak semua pawang hujan berserah diri kepada Tuhan, ada pula beberapa rekannya menggunakan jasa jin atau makhluk kasat mata lainnya.
Namun, ada sejumlah kerugian yang bakal dialami jika menggunakan jasa mereka. Seperti halnya manusia, makhluk itu juga kerap meminta imbalan kepada sang pawang.
"Mereka bisa menyerupai kita. Misalnya kita sedang pergi, mereka datang ke rumah dengan rupa yang sama dan bisa meniduri istri kita dan pasangan tidak tahu bahwa itu bukan kita," beber dia.
Selama menjadi pawang, tentu tidak semua ritual ini berhasil 100 persen, jika seharusnya terjadi hujan deras di lokasi tempatnya melakukan ritual, hasilnya justru hujan rintik-ritik.
Meski begitu, dia menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan apakah amalan yang dilakukan diterima atau tidak. "Kalau Allah enggak terima, ya hujan tetap turun," kata dia.
Kalaupun masih turun hujan, kegagalan itu bukan datang dari Jumhari sendiri, melainkan klien atau pihak yang meminta jasanya. Sebab, mereka tidak merasa yakin ritual yang dilakukan akan mengalami keberhasilan.
"Itu adalah azab, kadang-kadang yang punya hajat hatinya kurang yakin. Jadi, imbasnya ke kita-kita juga yang diminta tolong," terang Jumhari.
Jika itu terjadi, biasanya Jumhari memilih mundur dan meninggalkan klien dibandingkan meneruskan pekerjaanya. Hal itu dapat dia ketahui dari kalimat yang dicuapkan kadang menyinggung langkah-langkah yang dilakukannya.
Lalu berapa harga jasa sang pawang? Jumhari sendiri tidak pernah mematok harga terhadap jasa yang diberikan kepada pemilik hajat. Tapi, tetap saja dia bisa menerima uang dari mereka sebagai balas jasa. Minimal Jumhari membawa uang sebesar Rp 500 ribu setiap kali selesai acara.
Selain acara, dia juga kerap diminta menjadi pawang hujan setiap memasuki musim kampanye. Dari kegiatan partai itu, dia kerap membawa pulang uang dalam jumlah yang lebih besar. Sayang, dia tidak menyebut nilainya.
Disamping berprofesi sebagai pawang hujan, Jumhari juga memiliki keahlian lain, yakni memijat. Tak sedikit pejabat penting yang pernah merasakan pijatannya.
"Saya pernah mijat Yusril Ihza Mahendra, MS Kaban, Ketua Mahkamah Agung Ali Said sampai Wakil Presiden zaman Soeharto, namanya Soedarmono," aku dia.
Anda percaya dengan pawang hujan? (mdk/did)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya