Kisah awal 10 WNI disandera, anggota Abu Sayyaf naik kapal minta air
Merdeka.com - Bayu Oktavianto dan 9 ABK (anak buah kapal) pengangkut batu bara Brahma 12 lainnya tak pernah menyangka, jika hari Minggu (1/5) akan menjadi hari terakhir penyanderaan kelompok militan Abu Sayyaf Filipina. Pasalnya selama 36 hari menjadi tawanan dan hidup di hutan, karyawan PT Patria Maritim ini memang tak bisa melakukan komunikasi dengan siapa pun. Karena telepon genggam dan peralatan lainnya dirampas sejak awal.
Mereka juga tak pernah melakukan komunikasi sedikit pun dengan para penyandera. Selain perbedaan bahasa, para penyandera juga sangat menutup diri. Tak hanya mengenakan topeng, mereka juga tak pernah berbicara.
"Mereka itu pakaiannya seragam seperti tentara Filipina. Pakai topeng dan selalu bawa senjata di tangan," ujar Bayu saat berbincang dengan merdeka.com, Selasa (3/5).
Bayu mengisahkan awal mula dirinya dan kru kapal lainya disandera. Dia dan kawan-kawannya tak pernah menyangka jika akan datang dua rakit yang membawa kelompok Abu Sayyaf.
"Kami kaget, usai salat Subuh tiba-tiba ada yang datang. Pada awalnya mereka ini minta air dengan menaikkan galon ke kapal kami. Setelah diturunkan, mereka ada sekitar tujuh orang dengan senjata lengkap naik ke kapal kami. Dan langsung menodongkan senjata kemudian mengikat kami," jelasnya.
Usai seluruh kru kapal diikat, 10 ABK segera dipindahkan ke dua rakit punya perompak tersebut. Bayu mengakui tak tahu dibawa ke mana. Dalam perjalanan cukup lama tersebut, dia hanya bisa berdoa memohon keselamatan.
Usai tiba di Bandara Adisumarmo, Boyolali, Bayu Oktavianto selain bersyukur sempat menceritakan pengalaman dirinya saat disandera oleh kelompok Abu Sayyaf. Bayu mengaku mendapat perlakuan baik dan tidak ada perlakuan kasar dari anggota Abu Sayyaf tersebut.
Bayu juga menceritakan terkait perlakuan kelompok Abu Sayyaf terhadap para sandera, khususnya yang berasal dari Indonesia.
"Perlakuannya baik, tidak pernah ada tindakan kasar atau kekerasan. Pas jam makan ya makan, tapi ya hanya dua kali makan," atanya.
Saat menjelang pembebasan, Bayu dan sembilan ABK lainnya pun tak mengetahuinya. Dia mengaku tiba-tiba dibawa ke sebuah pulau, kemudian diantar ke rumah Gubernur Sulu.
"Saya tidak tahu mengapa tiba-tiba dibebaskan apakah ada tebusan atau tidak, Saya bersyukur bisa pulang kembali ke Indonesia dalam keadaan selamat," tutupnya.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya