Ketua MK se-Asia cari presiden baru, calon dari Malaysia menguat
Merdeka.com - Mahkamah Konstitusi (MK) Republik Indonesia saat ini menjadi tuan rumah Association of Asian Consitutional Court and Equivalent Institutions (AACC). Dalam pertemuan tersebut, salah satu yang akan disepakati adalah dipilihnya President AACC baru menggantikan President AACC saat ini, yakni ketua MKRI Arief Hidayat.
Menurut Sekjen Mahkamah Konstitusi Guntur Hamzah mengatakan, ada 5 tata cara pemilihan yang disepakati. sebelum akhirnya memutuskan siap presiden selanjutnya.
"Ada lima metode yang kami sepakati di sini, yang pertama dengan voluntary (secara sukarela). Kalau sekiranya secara sukarela tidak ada yang berminat maka dilakukan melalui metode per regional. Kalau regional tidak ada bisa, melalui joint presedensi, kalau tidak bisa juga melalui rote alfabatical order. Ini dinamis from A to Z atau from Z to A. Itu tergantung Ketua MK besok kira-kira mana yang mereka sepakati," kata Sekjen MK Guntur Hamzah di Hotel Alila usai menghadiri Sekjen Meeting.
Kalau pun ketua belum juga terpilih, lanjut Guntur, organisasi pun tetap jalan. Karena saat ini sudah ada permanen sekretariat yang ada di tiga negara, Indonesia, Turki dan Korea Selatan.
"Kalau tidak ada juga organisasi ini jalan terus. Bahwa kita sudah punya mekanisme permanen sekretariat yang ada di tiga negara," imbuhnya.
Sehingga, lanjut Guntur, siapa yang tidak menjadi presiden tidak masalah, karena ada yang mem-back up dari ketiga asosiasi ini.
"Tetap berjalan dengan posisi yang seperti ada sekarang ini, tapi itu pilihan terakhir, semoga ada kesepakatan dari para anggota ini bisa memutus dan menentukan siapa yang terpilih dan bersedia menjadi Presiden AACC selanjutnya," jelasnya.
Adapun pertemuan para ketua MK se-Asia yang berlangsung hari ini, pertama akan disepakati untuk pelaksanaan permanen sekretariat ini. Masing-masing permanen sekretariat untuk mengambil peran di bidangnya masing masing. MK Indonesia di bidang perencanan dan koordinasi, Korea Selatan di bidang research and delepment dan Turki di bidang pendidikan dan sumber daya manusia.
"Pemaparannya disampaikan semua sudah berjalan, bahkan ada dua hal permanen sekretariat ini, masing-masing mengundang untuk terlibat aktif dalam hal pengorganisasian, dan kedua juga disepakati pelu adanya LO (lisence officer) di masing-masing sekretariat dan akan kita cantumkan di website MK se-Asia.
Sehingga semua anggota bisa dengan mudah untuk melakukan pertukaran informasi, dan dengan mudah bisa melakukan kerja sama untuk kepentingan AACC ini," Guntur menjelaskan.
Hingga saat ini, beberapa negara disebut-sebut sebagai kandidat President AACC selanjutnya. Namun yang paling kuat dari Malaysia.
"Tadi ada tiga negara yang purpose ke Malaysia, ada beberapa negara yang mengusulkan agar Malaysia yang jadi presiden selanjutnya. Kami mendengar semua masukan dulu, dan kami melaporkan ke Ketua MK Malaysia, untuk masukan dan saran keinginan atau rekomendasi para anggota ini, disetujui atau gimana," imbuhnya.
(mdk/hrs)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya