Kesamaan gempa Aceh dan Yogya, dari kekuatan sampai kedalaman
Merdeka.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut gempa bumi yang terjadi di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh pada Rabu (7/12) lalu hampir mirip yang terjadi di Yogyakarta pada 2006.
Kekuatan gempa yang tercatat sama-sama sekitar 6,4-6,5 skala ricther (SR). Pusat gempa yang sebagian terjadi di daratan dengan kedalamannya yang hampir sama, yakni 15 km. Pergerakan lempeng tektoniknya juga sama, yakni sesar mendatar atau saling bergesekan berlawanan arah.
"Cuma bedanya, di Yogyakarta gempanya terjadi selama 57 detik. Sedangkan di Pidie Jaya kemarin gempa terjadi selama 15 detik," Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam konferensi pers di BNPB, Kamis (8/12).
Sutopo menjelaskan, guncangan seperti itu memang kerap terjadi di Indonesia. Apalagi ketika guncangan besar melanda, sebagian besar bangunan tak memiliki konstruksi yang dibangun guna mengantisipasi gempa dengan kekuatan cukup besar. Hal inilah yang menyebabkan banyaknya korban jiwa berjatuhan.
"Dan itu terjadi banyak di kota-kota Indonesia yang berkembang di wilayah berjenis tanah aluvial, kondisi batuannya gembur," ujarnya.
Sebelumnya, Perekayasa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memaparkan penjelasan ilmiah porak porandanya Kabupaten Pidie Jaya. Salah satunya karena kekuatan gempa berkali-kali lipat dibanding kekuatan bom nuklir.
"Gempa dangkal dekat bibir pantai tapi secara magnitut tidak sampai sebabkan Tsunami. Kekuatannya setara 4 hingga 6 kali bom Hiroshima, karenanya bisa ratusan bangunan rusak," kata Manajer Teknik Uji Numerik Balai Teknologi Infrastruktur Pelabuhan dan Dinamika Pantai BPPT Widjo Kongko di Yogyakarta seperti dilansir Antara, Kamis (8/12).
Gempa bumi yang terpusat di 5,25 Lintang Utara (LU) dan 96,24 Bujur Timur (BT) tepatnya di darat pada jarak 106 kilometer (km) arah tenggara Kota Banda Aceh pada kedalaman 15 km ini bukan berasal dari aktivitas sesar subduksi tetapi sesar mendatar.
Aktivitas sesar mendatar Samalanga-Sipopok Fault yang jalur sesarnya menuju arah barat daya-timur laut ini bisa sama parah dampak kerusakannya dengan sesar yang bergerak naik-turun karena cukup dangkal kedalamannya. Namun, aktivitas sesar mendatar di dalam laut tidak memicu tsunami, berbeda dengan sesar yang bergerak naik-turun (subduksi).
"Gempa ini jadi 'test case' juga untuk kesiapan 'early warning system' dan sistem manajemen bencana yang sudah ada. Apakah semua itu sudah berjalan baik?" ujar Widjo.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya