'Kepulangan' Bu Patmi tumbuhkan bunga perlawanan petani Kendeng
Merdeka.com - Duka mendalam terpancar di raut wajah para petani Kendeng, peserta aksi cor kaki menolak pembangunan pabrik semen. Kepulangan Bu Patmi meninggalkan kesedihan, tapi tidak menyurutkan api perlawanan mereka.
Bu Patmi menghembuskan napas terakhir Selasa (21/3) sekitar pukul 02.55 WIB. Semangat perlawanan Bu Patmi menolak berdirinya pabrik semen telah menginspirasi warga lainnya. Termasuk Koko, salah satu anggota Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK). Di matanya, Bu Patmi contoh orang yang konsisten dengan pilihan hidupnya.
"Kita pasti mati. Tapi kita yang memilih jalannya. Kita yang memilih apakah (mati) dengan mencintai ibu bumi atau dengan mendurhakainya, " ungkap Koko di kantor LBH, jakarta, Selasa (21/3).

Koko menyamakan nama Patmi dengan Padma yang berati bunga. Kepulangan Bu Patmi akan memunculkan bunga-bunga perlawanan.
Siti mengagumi sosok Bu Patmi sebagai wanita yang peka dan gigih terhadap persoalan yang dialami warga.
"Bu Patmi itu sangat gigih. Ketika dia cium (persoalan seputar pabrik semen), dia langsung ikut gerakan. Dia ikut jalan kaki dari Pati-Semarang. Dia juga ikut aksi jalan kaki dari Rembang-Semarang," ungkap Siti.
Siti masih ingat betul, setelah aksi kemarin, dia sempat mengajak Bu Patmi untuk pulang ke Pati. Sebab saat itu telah diputuskan bahwa hanya akan ada sembilan orang saja yang akan melanjutkan aksi. Yang lain diperbolehkan pulang.
"Tapi ketika diajak pulang, Bu Patmi tidak mau. Dia bilang, 'saya mau di sini'," tambah Siti.

Bu Patmi mengikuti aksi tolak pabrik semen di Kendeng sejak kamis (16/3). Sejak hari itu kakinya dicor. Muhammad Isnur, advokat dan pengacara publik LBH, menceritakan, setelah bertemu Kepala Staf Presiden, diputuskan bahwa peserta aksi yang lain boleh pulang karena sudah dipilih sembilan orang untuk melanjutkan aksi. Bu Patmi termasuk peserta yang diperbolehkan pulang.
"Bu Patmi kemudian mandi. Setelah mandi, Bu Patmi teriak sakit, dan dia sempat muntah," jelas Isnur.

Bu Patmi langsung diantar ke rumah sakit St. Carolus. Dokter yang memeriksa mengatakan kematian Bu Patmi termasuk sudden death (kematian tiba-tiba). Namun, Isnur menduga Bu Patmi meninggal akibat serangan jantung. Isnur mengatakan, Bu Patmi termasuk salah satu peserta yang kesehatannya tidak mengkhawatirkan.
"Kita punya beberapa dokter untuk melihat kondisi kesehatan peserta. Bu Patmi adalah satu peserta yang tidak dikhawatirkan kondisinya," kata Isnur.
Kini, jenazah Bu Patmi telah diantar ke Pati untuk selanjutnya dimakamkan di Desa Larangan, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya