Kepala BNPT bicara penanganan terorisme di dunia maya di Kazakhstan
Merdeka.com - Pola pendekatan lunak (soft approach) dalam menangani kasus terorisme yang selama ini dilakukan Indonesia menarik perhatian pemerintah Kazakhstan. Kedua negara juga membahas soal kerjasama penanggulangan terorisme.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Suhardi Alius mengatakan dalam pertemuan tersebut secara khusus dijelaskan secara utuh mengenai apa yang sudah dikerjakan oleh Indonesia dalam menangani masalah terorisme. Suhardi melakukan pertemuan dengan Deputi Chairman National Security Committee (NSC) Kazakhstan, Nurgali Dauletbekovich Billsbekov
"Kami sampaikan bahwa kami melakukan pendekatan soft approach dalam penanganan terorime di Indonesia. Atas penjelasan tersebut Deputi Chairman NSC terlihat terkesan," ujar Suhardi dalam keterangan tertulisnya, Senin (29/1).
Lebih lanjut, mantan Kabareskrim Polri ini, menjelaskan bahwa dalam melaksanakan pendekatan lunak ini pihaknya menggandeng para mantan pimpinan teroris yang telah bertobat sebagai pembicara untuk program deradikalisasi. Pendekatan ini efektif karena mantan teroris ini mengungkapkan pengalaman mereka sebelumnya. Selain itu, Suhardi juga menceritakan kalau pihaknya juga melibatkan organisasi Islam seperti Nahdatul Ulama dan Muhamadiyah.
"Dari penjelasan itu tadi maka pola soft approach inilah yang menjadi poin besar buat mereka juga, bahwa tidak selamanya pola penanganan dengan metode hard approach itu bisa menghasilkan suatu solusi tapi juga harus mengidentifikasi akar masalah," ujar alumni Akpol tahun 1985 ini.
Mantan Kapolda Jawa Barat dan Kadiv Humas Polri ini mengatakan bahwa dalam melakukan pembicaraan tersebut dirinya juga menjelaskan mengenai pendekatan yang dilakukan BNPT dalam menangani kasus radikalisasi melalui media sosial dan dunia maya.
"Kami sampaikan bahwa dalam menangani radikalisme melalui dunia maya ini kami merekrut generasi penggiat media sosial dan internet untuk menjadi duta damai di duna maya. Mereka bertugas menyebarkan pesan-pesan damai dan positif dengan bahasa anak muda di media sosial dan internet," jelasnya.
Keduanya juga berbicara mengenai perkembangan terorisme di masing-masing negara."Dalam pembicaraan tersebut baik kami dari Indonesia dan pihak Kazakhstan bertekad untuk saling bertukar pengalaman terutama dalam mengantisipasi kembalinya returnees Foreign Terrorist Fighters (FTF)," tandasnya.
Dalam kunjungannya Suhardi di dampingi Deputi III bidang Kerjasama International BNPT, Irjen Hamidin dan pejabat dari Direktorat Kerjasama Bilateral BNPT lainnya. Turut hadir dalam working dinner tersebut Duta Besar RI untuk Kazakhstan, H.E Rahmat Pramono dan Deputy Menlu Kazakhstan. Suhardi juga bertemu dengan Wakil Menteri Agama Kazakhstan.
(mdk/did)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya