Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kenangan keluarga Patmi: Ibu berjuang bela anak cucu dan Tanah Air

Kenangan keluarga Patmi: Ibu berjuang bela anak cucu dan Tanah Air Patmi peserta aksi cor kaki meninggal dunia. ©2017 Merdeka.com/istimewa

Merdeka.com - Sri Utami, putri Bu Patmi, peserta aksi tolak pabrik semen yang meninggal, mengatakan kepergian ibunya (Bu Patmi) untuk mengikuti aksi tolak pabrik semen atas kemauannya sendiri. Bu Patmi meninggal dunia karena sakit.

"Ya memang ibu berangkat tidak ada paksaan, juga sudah berpamitan dengan keluarga, dari keluarga juga sudah mengizinkan. Ibu menyampaikan bahwa pamit untuk berjuang membela anak-cucu, membela Tanah Air sendiri," ungkap Sri Utami melalui pesan singkat, Rabu (22/3).

Bagi wanita kelahiran 30 September 1987 itu, apapun yang terjadi saat aksi yang dilakukan sang ibu merupakan kehendak Tuhan dan ia sebagai putri dapat menerima.

"Seumpama ada apa-apa, itu sudah menjadi kehendak Yang Membuat Hidup, kehendak Gusti Allah. Saya ya Insya Allah bisa menerima," katanya.

Karena itulah, Sri Utami menerima kematian ibunya sebagai sebuah suratan takdir Yang Mahakuasa dan ia berharap keluarga yang ditinggalkan selalu diberi ketabahan.

"Mau bagaimana lagi, takdirnya segitu. Ya, semoga saja, keluarga yang ditinggal ini diberi ketabahan," ujar Sri Utami.

Diketahui, Bu Patmi (48), salah satu peserta aksi tolak pembangunan pabrik semen di Kendeng, meninggal dunia pada selasa (21/3). Dokter yang memeriksanya mengatakan bahwa kematian Bu Patmi termasuk sudden death.

Almarhum Bu Patmi bernama lengkap Patmi Bin Rustam. Ketika meninggal ia berusia 48 tahun. Bu Patmi meninggalkan dua orang anak, Sri Utami, lahir 30 September 1987 (30 tahun) dan Muhamadun Da'iman, lahir 22 Desember 1995 (22 tahun). Jenazah Bu Patmi dimakamkan di Desa Larangan, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati.

(mdk/lia)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP