Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kemerdekaan dalam diam

Kemerdekaan dalam diam Gladi resik upacara 17 Agustus di Istana. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Kemerdekaan negara ini selalu diperingati setiap tahun dengan segala kemewahan, tapi benarkah kemerdekaan itu telah kita rasakan? Kemiskinan seakan mengancam di setiap tikungan masa. Menjadikan petani, buruh, nelayan kecil, mereka yang tidak memiliki jabatan dan posisi politik tertentu harus siap-siap tersungkur dalam kemiskinan.

"Harga pupuk yang semakin mahal, harga minyak yang tak terkendali, perusakan alam di mana-mana seperti moncong senjata kaum penjajah yang siap merobek ulu hati rakyat Indonesia. Apakah ini yang dinamakan merdeka?" kata Koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng, Sumito, dalam rilis yang diterima merdeka.com, Jumat (17/8).

Menurut Sumito, rakyat Pegunungan Kendeng Utara tak ingin tunduk dalam acungan senjata para penjajah itu. "Kami ingin bangun dan memperjuangkan kemerdekaan sejati sebagai rakyat Indonesia. Bebas dari rasa takut. Bebas dari ancaman kelaparan dan kemiskinan," ujarnya.

Selama ini, kata Sumito, upacara kemerdekaan Indonesia hanya menjadi peristiwa pejabat dan orang-orang di pemerintahan. Oleh karena itu "Upacara Rakyat" yang akan diadakan di lereng Pegunungan Kendeng, tepatnya di dukuh Grasak desa Brati Kecamatan Kayen, menjadi satu peristiwa untuk melibatkan kembali rakyat dalam perhelatan perayaan kemerdekaan Indonesia.

Akan tetapi keinginan perayaan ini lanjut Sumito harus menghadapi tekanan begitu kuat dari pihak Komandan Daerah Militer (Dandim) Pati yang melarang diselenggarakannya Upacara Rakyat ini. Alasan yang diajukan adalah bahwa tema upacara ini sudah menyimpang dari agenda perayaan kemerdekaan Indonesia yang sebenarnya dan dikhawatirkan akan menimbulkan disintegrasi bangsa.

"Sungguh ironis. Ketika rakyat berinisiatif untuk aktif dalam kegiatan perayaan kemerdekaan justru kami mendapatkan tuduhan yang sungguh tidak beralasan. Dalam perjumpaan dengan beberapa staf Kodim Pati kami sudah menjelaskan bahwa tidak ada sedikitpun niat kami untuk menyuarakan mengenai disintegrasi. Penjelasan kami tidak mendapatkan jawaban yang proporsional, melainkan justru mendapatkan kekerasan verbal berupa ancaman penangkapan hingga ancaman tembak di tempat," ujarnya.

"Lalu apa yang bisa kami lakukan untuk memaknai kemerdekaan ini? Apakah dengan makan krupuk, panjat pinang, atau sekedar ikut-ikutan mengikuti upacara tanpa tahu maknanya? Maka dalam upacara ini kami hanya bisa diam, seraya mengenang dan mendoakan para pahlawan kemerdekaan yang telah berhasil merebut kemerdekaan itu; namun sayang, di usia Kemerdekaan RI yang ke-67 dan kami akan merayakannya; justru niat bersemangatkan kebangsaan itu harus urung kami laksanakan!" (mdk/war)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP