Kemenkes Tegaskan Vaksinasi adalah Kunci Cegah Varian Baru Covid-19
Merdeka.com - Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmidzi mengungkapkan salah satu kunci mencegah munculnya varian baru Covid-19, yakni segera mengikuti vaksinasi.
"Salah satu kunci untuk mencegah varian baru adalah segera vaksinasi," katanya dalam konferensi pers virtual, Selasa (8/3)
Nadia mengatakan, semakin sedikit penduduk yang mengalami infeksi, maka semakin besar kemungkinan bisa mengendalikan varian baru Covid-19. Dia menyebut varian baru Covid-19 tak selalu berbahaya.
Berdasarkan pernyataan para ahli, sebagian besar mutasi virus justru tidak memberikan dampak. Jika memberikan dampak malah melemahkan kemampuan virus sendiri.
"Hanya sebagian kecil, kurang lebih 5 persen dari mutasi virus itu yang menyebabkan lebih fatal," ucapnya.
Nadia berujar, banyak ahli berpendapat kemungkinan varian Omicron merupakan mutasi terakhir dari Covid-19 yang berpotensi meningkatkan keparahan atau penularan. Dia berharap, kemungkinan tersebut benar-benar terjadi.
"Kita berharap kondisi ini betul-betul terjadi, di samping kita berupaya untuk memberikan proteksi tambahan dengan vaksinasi dan terus menekan laju penularan," tutupnya.
Pemerintah memutuskan meniadakan kewajiban tes PCR atau antigen bagi pelaku perjalanan domestik yang sudah mendapatkan vaksinasi lengkap maupun lanjutan (booster). Selain itu, pemerintah memangkas masa karantina pelaku perjalanan luar negeri menjadi satu hari.
Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University Australia, Dicky Budiman mengkritisi kebijakan tersebut. Menurutnya, pemerintah terlalu terburu-buru melonggarkan aktivitas masyarakat.
"Ini kan membuat potensi adanya varian baru menjadi besar," katanya saat dihubungi, Selasa (8/3).
Dicky mengatakan, posisi Indonesia saat ini masih rawan terhadap penularan Covid-19. Hal ini terlihat dari data vaksinasi Covid-19 primer lengkap baru 71,23 persen dan booster hanya 6,10 persen dari target 208.265.720.
Belum lagi, angka kasus kematian akibat Covid-19 harian masih tinggi. Data Senin (7/3) kemarin, kematian harian tercatat bertambah 258 orang.
"Masih terlalu rawan menurut saya, belum solid," ujarnya.
Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung ini berpendapat, kebijakan pemerintah melonggarkan aktivitas bisa memperpanjang masa pandemi Covid-19. Sebab, varian baru yang muncul akibat pelonggaran aktivitas bisa berpotensi menurunkan efikasi vaksin dan menghambat penanganan pandemi Covid-19.
"Tidak ada jaminan bahwa varian berikutnya lebih lemah, tidak ada. Virus ini tidak melemah, bahkan dia kalau dibiarkan bersirkulasi lebih pintar, nanti menghilangkan efektivitas vaksin yang ada, kan rugi kita. Makin panjang lagi nanti masa pandeminya," jelasnya.
Dicky menyebut, sebetulnya ada tiga indikator untuk melonggarkan aktivitas masyarakat. Pertama, cakupan vaksinasi primer lengkap mencapai 90 persen serta booster minimal 50 persen.
Kedua, angka reproduksi efektif atau Rt Covid-19 di bawah 1, positivity rate kurang dari 1 persen, dan keterisian tempat tidur rumah sakit rujukan Covid-19 di bawah 10 persen. Selain itu, angka kematian Covid-19 di bawah 1 persen per 1.000.000 atau 100.000 penduduk.
"Ketiga kesiapan dari sisi individu, masyarakat, maupun lingkungan. Bagaimana? Kalau masyarakat dan individu, yang namanya personal memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan. Kalau demam, batuk, tidak pergi kerja, tidak pergi-pergi, ini harus terbangun, ini harus ada literasi," terangnya.
Sebelum melonggarkan aktivitas masyarakat, kesadaran pengelola perkantoran juga harus terbangun. Misalnya, pekantoran memiliki fasilitas cuci tangan dan memastikan terjadi pertukaran udara yang baik dalam gedung.
Di saat bersamaan, pemerintah harus memperkuat surveilans bagi masyarakat. Meskipun kebijakan penghapusan tes PCR maupun antigen bagi perjalanan domestik diterapkan, surveilans harus tetap dijalankan untuk melihat situasi penularan Covid-19.
"Prinsipnya harus ada penguatan di aspek lain ketika bepergian tidak pakai tes harus ada penguatan surveilans," tandasnya.
(mdk/eko)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya