Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Keluarga kecewa kapal tak dikawal sebelum kapal disandera Abu Sayyaf

Keluarga kecewa kapal tak dikawal sebelum kapal disandera Abu Sayyaf abu sayyaf. ©2016 mindanaoexaminer.com

Merdeka.com - Keluarga Kapten Moch Ariyanto Misnan menyayangkan pengawalan terhadap kapal TB Henry tak dilakukan pada saat pulang menuju Indonesia. Sehingga kapal yang ditumpangi 10 anak buah kapal dibajak oleh kelompok militan Filipina.

"Berangkatnya dikawal aparat keamanan, namun pulangnya enggak dikawal," kata orang tua Kapten Ariyanto, Melati Ginting (52) saat ditemui di rumahnya, Taman Narogong Indang, Jalan Garuda 6 RT 3 RW 22, Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, Rabu (20/4).

Melati mengaku sempat tak mengizinkan anaknya berlayar ke Filipina. Ketakutannya akhirnya terbukti. Kapal diisi anaknya alami pembajakan oleh kelompok militan Abu Sayyaf pada 26 Maret lalu. Padahal anaknya menginformasikan bahwa berlayar ke Filipina mendapatkan pengawalan.

"Waktu berangkatnya aman, ternyata pas pulangnya tidak ada pengawalan, akhirnya kapal dibajak," ujarnya.

Karena itu, dia mengaku cukup terkejut setelah mendapatkan kabar bahwa anaknya menjadi korban pembajakan oleh kelompok militan itu di perairan perbatasan antara Filipina dan Malaysia.

"Artinya, tidak ada jaminan keamanan di laut. Kenapa hanya berangkatnya saja, kenapa pulangnya tidak dikawal," kata ibu lima anak ini.

Seperti diketahui, kapal berbendera Indonesia yakni milik PT. Global Trans Energy International yaitu kapal TB Henry dibajak di perairan perbatasan antara Filipina dan Malaysia. Dari 10 anak buah kapal, 4 di antaranya masih disandera pembajak.

Empat orang masih disandera antara lain, Moch Ariyanto Misnan (kapten), Lorens MPS, Dede Irfan Hilmi dan Samsir. Para militan yang menyandera meminta uang tebusan sekitar Rp 14,5 miliar.

(mdk/ang)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP