Kekeringan, petani Sragen gunakan Elpiji untuk sedot air
Merdeka.com - Kekeringan akibat musim kemarau mulai berimbas ke sektor lain. Di Kabupaten Sragen ratusan petani mulai kebingungan untuk mendapatkan sumber air untuk mengaliri sawahnya. Mereka akhirnya menggunakan diesel untuk memompa air tanah.
Namun tak sampai di situ, penggunaan bahan bakar solar dinilai mahal dan pada akhirnya petani menggunakan Elpiji bersubsidi 3 kilogram untuk menghidupkan mesin diesel. Karena banyaknya petani yang memanfaatkan Elpiji melon, akibatnya bahan bakar gas yang seharusnya digunakan untuk memasak warga miskin tersebut langka.
Selain langka, harga gas Elipiji ukuran 3 kilogram juga melonjak hingga mencapai Rp 25 ribu per tabung. Harga tersebut melebihi harga eceran tertinggi (HET) yang hanya Rp 17 ribu per tabung.
Jika satu tabung Elpiji ukuran 3 kilogram itu setara dengan 4 liter bensin, dengan bensin pompa bisa beroperasi sekitar 4-5 jam, sementara dengan Elpiji bisa 7 jam.
Sartomo (45) petani Desa Tenggak, Kecamatan Sidoharjo mengatakan, petani memilih menggunakan Elpiji karena lebih hemat dibandingkan menggunakan solar atau bensin. Dalam sehari dia menghabiskan 2 tabung gas Elpiji 3 kilogram untuk mengairi sawahnya yang seluas 1 hektare.

"Gas Elpiji kita gunakan untuk menyedot air dari sumur pantek dengan menggunakan pompa selama 14 jam. Biayanya lebih irit daripada pakai bensin," ujar dia, Kamis (14/9).
Para petani di 12 kecamatan di Sragen juga menggunakan Elpiji melon untuk bahan bakar pompa air. Ke-12 kecamatan selama ini dikenal sebagai sentra pertanian, yaitu Kecamatan Sragen Kota Karangmalang, Kedawung, Sidoharjo, Masaran, Gondang, Sambungmacan, Ngrampal, Gemolong, Tanon, Plupuh, dan Sumberlawang.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sragen, Untung Sugihartono, mengemukakan, sesuai dengan peraturan, gas Elpiji 3 kg seharusnya hanya untuk kebutuhan rumah tangga dan usaha menengah kecil mikro (UMKM).
"Kami tidak bisa melarang petani menggunakan untuk kebutuhan pertanian karena berdampak apada ancaman gagal panen. Kami akan meminta tambahan kuota elpiji khusus untuk petani. Kami akan mengirim surat ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian Pertanian, dan Pertamina. Ini kan darurat," jelas dia.
Menurut Untung, saat ini jumlah kuota harian Elpiji di Sragen sebanyak 28 ribu tabung dialokasikan untuk rumah tangga dan UMKM. Namun, saat kemarau jumlah itu tidak mencukupi karena para petani juga menggunakan untuk pengairan. (mdk/dan)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya