Kekeringan, kawanan kera keramat Cikakak serbu pemukiman warga
Merdeka.com - Seribuan lebih kera di kawasan Masjid Sakatunggal Desa Cikakak Wangon Banyumas Jawa Tengah, mulai meresahkan warga sekitar. Kera-kera yang selama ini menjadi hewan keramat di kawasan tersebut sudah mulai merusak tanaman dan bahkan rumah warga yang bermukim di sekitar area Masjid Saka Tunggal.
Seorang warga sekitar Jafar (50) mengakui saat ini kera-kera yang jumlahnya hingga mencapai seribuan ekor lebih tersebut kerap turun ke permukiman warga karena musim kemarau. "Kalau musim kemarau memang kering, jadinya kera-kera turun karena mencari makanan ke permukiman," ujanrya, Senin (6/7).
Saat ini, katanya, warga hanya bisa mengusirnya karena hewan yang dahulu dianggap keramat oleh penduduk sekitar ini, sudah meresahkan warga. "Ngusirnya pakai ketapel dan petasan. Sekarang (kera-kera) sudah jadi hama, jumlahnya sudah ribuan dan mengganggu warga," jelasnya.
Senada dengan Jafar, Sopani (68) mengatakan kera yang datang kerap merusak tanaman milik warga. Bahkan, atap rumah warga yang disusun dari genteng juga dirusak. "Kalau di dalam rumah ada makanan apa, ya sudah diambil. Kalau pagi di lingkungan Masjid Saka Tunggal itu banyak sekali. Kera-kera itu datang dari hutan," katanya.
Tak hanya mereka, Saminah yang tinggal di kompleks Masjid Sakatunggal merasa geram dengan makin mengganasnya kera yang datang dari arah hutan tersebut. Bahkan, beberapa waktu lalu, atap rumahnya dirusak kawanan kera yang ingin masuk ke rumahnya.
"(Mereka) sudah mengganggu, mungkin karena kelaparan. Kalau musim kemarau seperti ini sering masuk ke rumah. Apa saja diambil, cuma cabai saja yang ngga mau," ujarnya.
Dia berharap, ada pihak yang bersedia mengurus kawanan kera yang berkeliaran di kompleks Masjid Sakatunggal. Minimal dikondisikan agar tak mengganggu warga sekitar. Kompleks Masjid Sakatunggal Baitussalam Desa Cikakak dikenal sebagai cagar budaya yang terdaftar di pemkab Banyumas.
Keunikan cagar budaya tersebut, selain karena masjidnya yang hanya memiliki satu buah tiang, juga karena di kompleks tersebut juga hidup kawanan kera yang ada sejak zaman dulu. Kawanan kera tersebut dianggap keramat oleh warga sekitar. Namun, saat ini keberadaan kawanan kera tersebut kerap meresahkan warga karena populasinya yang makin tak terkendali. (mdk/hhw)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya