Kegembiraan ratusan warga Kedonganan saat tradisi mandi lumpur
Merdeka.com - Ratusan warga Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung Bali, menggelar tradisi Mebuug-buugan (mandi lumpur). Bertempat di hutan Mangrove di Jalan Pura Dalem Kedonganan. Minggu (18/3).
Sebelum memulai tradisi Mebuu-buugan, ratusan warga mulai dari bocah, pemuda dan pemudi hingga para orang tua berkumpul di Pura Bale Agung di Desa Kedonganan untuk melakukan persembahyangan agar saat menggelar tradisi tersebut diberi keselamatan.
Kemudian, dengan beiring-iringan ratusan warga tersebut menuju hutan mangrove. Para kaum pria dengan memakai sarung kain dan bertelanjang dada tampak antusias. Sambil berdendang dan bercanda mereka menapaki jalan belumpur dengan hati-hati.
Sesampainya di tempat mengambil lumpur, kemudian secara bergantian mereka melumuri badannya, wajah hingga rambut. Para pemuda-pemudi tampak bergembira ketika melihat wajah-wajah kawan atau saudaranya tertutup lumpur.

Kemudian, setelah prosesi mandi lumpur selesai para ratusan warga tersebut menuju pantai Kedonganan di sebelah barat untuk membersihkan diri dari lumpur tersebut.
I Gede Suadana, selaku penjuru atau Koordinator tradisi Mebuug-buugan Desa Adat Kedonganan mengatakan, bahwa tradisi mandi lumpur ini, memang dilakukan setelah melewati Hari Raya Nyepi, Tahun Caka 1940, Sabtu (17/3) kemarin.
Ia juga menceritakan, bangkitnya tradisi mandi lumpur tersebut sejak tahun 2013, setelah puluhan tahun tidak pernah dilakukan. Kemudian, saat ini setiap tahun telah rutin dilakukan.
"Tradisi ini, bangkitnya tahun 2013, waktu itu diikuti sekitar 200 orang. Kemudian pada tahun 2017 sampai 1000 orang peserta warga Desa Adat Kedonganan," ucapny, Minggu (18/3) sore.
Untuk makna tradisi mandi lumpur ini, Suadana menjelaskan bahwa intinya membersihkan diri, setelah menyambut tahun baru Caka 1940.
"Kita membersihkan diri dengan cara melumuri lumpur di pantai timur (Mangrove). Kemudian melakukan pembersihan diri di pantai barat (Kedonganan)," imbuhnya.
Selain itu, Suadana juga menjelaskan bahwa untuk lumpur yang dipakai melumuri seluruh badan. Bukan sembarangan lumpur, tapi lumpur yang berwarna merah. Karena, pada satu abad yang lalu lumpur berwarna merah tersebut menjadi alat untuk membersihkan diri sebelum ada sabun dan shampo.
"Jadi kenapa memakai lumpur itu, sekitar 100 tahun yang lalu. Itu lumpur suatu alat untuk membersihkan diri sebelum ada shampo. Jadi orang-orang tua kita dulu, menggunakan lumpur ini untuk keramas dan menghilangkan ketombe," ujarnya.
Hal itu, juga sudah dibuktikan secara ilmiah pada tahun 2017. Dengam menurunkan tim ahli yang mengecek keberadaan lumpur tersebut. Sehingga jika mengenai tubuh tidak akan gatal.
"Kita sudah menurunkan tim ahli dari Universitas Udayana untuk mengecek lumpur itu. Lumpur yang dipakai semuanya merah dan saat mengambilnya sampai kedalaman lengan tangan. Kalau bukan lumpur merah nanti gatal," ujarnya.
(mdk/rzk)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya