Kebaikan hati antarkan Kakek Rahman ke Tanah Suci
Merdeka.com - Sudah enam tahun Abdul Rahman menjual koran di SPBU Jalan Casablanca, Jakarta Selatan. Usia senja tidak membuat semangatnya turun. Dia tampak semangat menawarkan koran dari pelbagai surat kabar nasional. Padahal kondisinya tengah memprihatinkan.
Kakek berusia 77 tahun itu didera penyakit tumor pada bagian wajah. Namun, keadaan itu tidak membuatnya mengeluh. Dia bahkan menolak bila ada orang hanya memberi belas kasih kepadanya. Namun, penolakan itu dilakukan dengan cara ramah.
Sehari-hari Kakek Rahman memang dikenal ramah. Selama ini Kakek Rahman tinggal bersama anak dan cucunya di rumah berukuran kecil bilang Menteng Dalam, Jakarta Selatan. Meski kondisinya mengenaskan dia tidak sungkan membagi rezekinya kepada para janda dan anak yatim.
Semua itu dilakukan sebagai wujud bersyukur dengan rezeki diperolehnya hari itu. "Uang hasil jual koran saya bagiin ke cucu, anak-anak yatim, janda miskin setiap hari. Kalau ketemu anak yatim di jalan, saya panggil, saya kasih uang, saya pegang kepalanya saya doain biar pinter," cerita kakek Rahman kepada merdeka.com, Jumat (28/10) kemarin.
Selama menjalani profesi sebagai loper koran, kegiatan agama tidak pernah dia tinggalkan. Setiap hari ibadah tidak pernah ditinggalkan.
Sebagai muslim, Kakek Rahman menceritakan bahwa setiap hari selalu bangun tengah malam untuk menjalankan salat Tahajud. Setelah itu dia langsung membaca Alquran hingga Subuh. Seusai salat Subuh, dia langsung bergegas ke SPBU tempatnya mangkal berjualan koran.
"Saya jalan jual koran di SPBU jam 06.00 sampai jam 11.00, lalu jam 13.00, balik lagi jualan sampai jam 16.00 sore," ungkapnya.
Usai menjajakan koran, kakek Rahman lebih memilih membaca Alquran sampai menunggu waktu salat Magrib lalu pergi ke musalah. Barulah selepas salat Isya dia beristirahat atau sekedar bermain dengan para cucunya.
Berkat kebaikan dan keikhlasannya, awal Januari 2017 mendatang, Kakek Rahman dijadwalkan akan melaksanakan ibadah umrah ke Tanah Suci. Dia mengaku ada seorang donatur akan memberangkatkan dirinya bersama 9 orang lain.
"Saya insya Allah Januari mau umrah. Bukan uang sendiri tapi ada donatur yang biayain. Kalau masih ada istri saya pengen berangkat sama istri saya. Tapi dia udah meninggal 4 tahun yang lalu," tutur Rahman.
Sementara, salah seorang cucu Kakek Rahman, Reza mengaku sering khawatir dengan Baba, panggilannya untuk sang kakek. Tiap kali dia mengisi bensin motornya, sering tak tega dan mengajaknya pulang. Namun, sang kakek malah cuek dan menganggap tak kenal dengan sang cucu.
"Ada rasa khawatir, was-was Baba ketabrak atau apa, tapi Baba itu orangnya bandel, enggak bisa diem di rumah. Kalau ditegur kadang nyaut kadang enggak. Dia enggak mau diganggu kalau lagi jualan," cerita Reza.
Meski begitu, Reza mengaku banyak belajar dari sang kakek. Mulai dari ketekunan ibadah hingga semangatnya tak pernah surut untuk berusaha. Kala usia senja bila orang sebayanya memilih bersantai, sang Baba malah memilih menjadi loper koran.
"Semangatnya bagus, enggak ada kata ngeluh, buat contoh kita anak cucunya. Kalau ada di rumah dia juga enggak bisa diem. Entah itu main sama cucunya, ngaji, ke musalah," cerita Reza.
(mdk/ang)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya