Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Katrin Bandel tulis catatan pinggir untuk Sitok Srengenge

Katrin Bandel tulis catatan pinggir untuk Sitok Srengenge Katrin Bandel. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Kasus dugaan pemerkosaan sastrawan Sitok Srengenge terhadap RW (22), mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), bak pemantik bagi perdebatan lawas kesusastraan. Katrin Bandel, kritikus sastra yang selama ini dikenal berseberangan dengan kelompok Sitok, pun menulis catatan pinggir untuknya.

Istilah 'catatan pinggir' yang ditulis istri sastrawan Saut Situmorang ini seakan menyindir sebuah esai yang ditulis Goenawan Mohamad (GM), rekan Sitok, setiap pekan di sebuah majalah berita mingguan. Untuk diketahui, Saut dan GM juga sudah sejak dulu bersitegang soal kesusastraan.

Berikut tulisan Katrin Bandel yang diberi judul 'Catatan Pinggir Seputar Kasus Sitok Srengenge'. Artikel ini merdeka.com kutip dari www.boemipoetra.wordpress.com.

Catatan Pinggir Seputar Kasus Sitok Srengenge

oleh Katrin Bandel

Tentu saja aku pun tidak tahu tepatnya apa yang terjadi antara Sitok Srengenge dan mahasiswi berinisial RW itu. Justru untuk memastikan hal itu dibutuhkan pengadilan.

Namun ada beberapa hal yang menurutku agak ganjil dalam respon terhadap kasus itu di fb, twitter, comment berita dsb. Pertama, sebagian orang tampaknya cenderung tidak membedakan antara perselingkuhan dan pemerkosaan. Tiba-tiba urusan keluarga Sitok pun dibicarakan, seakan-akan ini urusan kesetiaan antara suami-istri. Seandainya Sitok cuma menyeleweng, ngapain kita ikut ribut! Itu urusan pribadinya. Tapi pemerkosaan atau pelecehan seksual adalah kekerasan, tindakan kriminal. Ini bukan sekadar urusan zinah atau pelanggaran moral, tapi tindakan kekerasan seksual!

Kedua, pada sebagian respon aku sama sekali tidak melihat ada sensitifitas terhadap kondisi psikologis seorang korban pemerkosaan atau pelecehan seksual. Misalnya, ada yang bertanya mengapa kasusnya baru sekarang diadukan, bukan langsung setelah kejadiannya. Tindakan kekerasan seksual seringkali membuat seorang perempuan merasa terhina, malu, dan seakan-akan kotor dan tidak berharga. Korban pemerkosaan mengalami trauma, bingung dan stres, kerapkali bahkan menyalahkan diri sendiri. Hal itu merupakan reaksi psikologis yang wajar dalam kondisi seperti itu, dan bukan tanda ketidaktegasan atau ketidakjujuran!

Di samping itu, bukankah memang pada kenyataannya justru korbannya yang sering disalahkan masyarakat? Perempuan yang diperkosa tidak jarang dibilang kurang pandai menjaga diri, berpakaian kelewat seksi, atau dituduh berbohong. Dalam kondisi semacam itu, bukankah wajar kalau korban bimbang, dan baru berani bersuara saat ada dukungan dan pendampingan?

Baca juga:

Sitok setubuhi mahasiswi di fakultas tempat anaknya belajar

5 Cerita kasus pemerkosaan mahasiswi UI yang dilakukan Sitok

Bela ayah, anak Sitok Srengenge bikin surat terbuka di blog

Diminta tanggung jawab, Sitok Srangenge sering mengelak

GM tunggu penjelasan Sitok Srengenge soal laporan pemerkosaan

Sitok ngaku setubuhi mahasiswi UI, istri tetap setia mendampingi (mdk/ren)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP